10 July 2005
MEMANASKAN NORTH SEA JAZZ FESTIVAL 2005 DENGAN DUET KENDANG & DRUMS
Posted by admin under: Festival; Gigs .
De Indonesische formatie Krakatau maakt muziek die gebasseerd is op het oude s’lendro - de traditionale muziek van Java, Bali en Sunda. Krakatau mengt deze oude ritmes met Westerse elementen uit de pop en jazz.Penggalan kalimat diatas yang dapat dibaca dari brosur yang disebarluaskan panitia Heat the Hague - North Sea Jazz Festival (NSJF), acara pemanasan sekaligus promosi NSJF yang mengambil tempat di Plein, Centrum Den Haag.
Acara yang berlangsung malam hari, sekitar pukul 19.00 waktu setempat, meski demikian terik matahari masih menyengat, walau angin semilir yang berhembus terasa dingin merasuk tulang.
Krakatau yang tampil dua hari menjelang NSJF yang digelar di National Congress Centrum, membawakan sejumlah lagu baru dari album baru dan lawas yakni Gank4, Egrang Funk, Bunga Tembaga, Shufflendang, Tugu Hegar, Bandung Spirit, Uhang Jaeuh, Tarek Pukat dan Rhythms of Reformation.
Penampilan selama kurang lebih 60 menit ini, menghangatkan suasana Plein, yang merupakan lapangan dikelilingi sejumlah bangunan sehingga menimbulkan efek akustik tersendiri. Disisi kiri panggung terdapat sejumlah restaurant terbuka. Dibelakangnya ada sejumlah toko-toko yang menjual beragam produk, mulai dari souvenir hingga makanan.
Krakatau yang terdiri dari Dwiki Dharmawan (Keyboard & Syntesizer), Pra Budi Dharma (Electric Fretless Bass), Adhe Rudhiana (Kendang and Percussions), Yoyon Dharsono (Multi Traditional Instruments), Zainal Arifin (Gamelan and Percussions), Gerry Herb (Drummer) dan vokalis Nya Ina Raseuki yang akrab dipanggil Ubiet tampil dengan penuh semangat.
Duet dua kendang dan bonang, diselingi dengan bungi ceng-ceng dan ditimpali suara tarompet pada lagu ‘Rhythms of Reformation’ membuat penonton yang berada dibibir panggung bergoyang-goyang mengikuti irama lagu. Sesekali Ubiet mengeluarkan suara-suara unik dari mulutnya.
Salah satu penampilan yang mendapat perhatian dari para penonton adalah ketika terjadi duel antara Gerry Herb pada drum dengan Ade Rudhiana bersama kendangnya. Saling bersahut-sahutan, merespon satu sama lain, menjadikan pertunjukan mereka tidak terasa monoton, bahkan adrenalin terasa meningkat ketika pada bagian akhir kedua musisi yang berbeda latar belakang - Gerry awalnya bermain Rock dan Ade yang memang musisi tradisional sunda - meningkatkan tempo permainan. Suara kendang dan drum yang bertalu-talu diakhiri dengan hentakan luar biasa.
***
Penampilan Krakatau yang didukung penuh oleh Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia serta Departemen Luar Negeri ini menjadi penting terutama karena publik Belanda yang memiliki keterkaitan historis dengan Indonesia.
Tak hanya itu, keikutsertaan Krakatau di North Sea Jazz Festival membuktikan bahwa Krakatau memang pantas disejajarkan dengan jazzer-jazzer kelas dunia lainnya.
Penampilan Krakatau sebelumnya di Galapagar Jazz Festival Spanyol hanya berselang satu jam dengan James Brown yang tampil dipanggung yang berseberangan dengan Auditorium atau Cultural Centre Communidad de Galapagar.
Rencananya Krakatau juga akan tampil di Montreux Jazz Festival di Swiss dan Alkantara Festival di Italia serta tampil pula di Klub Jazz kenamaan di Madrid, Spanyol, Calle 54. (*/Agus Setiawan B/WartaJazz.com)

