11 November 2007

Konser”Ilir-ilir” di Beijing

Posted by admin under: Gigs .

oleh Frans Sartono

Ilir-ilir, tembang Jawa itu, hadir dalam sentuhan Sunda dan jazz di negeri China. Itulah salah satu suguhan Krakatau dalam konser “The Rhythms of Indonesia” di Beijing Concert Hall, Beijing, China, pada Rabu (7/11) malam.

Beijing Concert Hall yang terletak sekitar satu kilometer dari lapangan bersejarah Tiananmen itu menjadi ajang pergaulan budaya. Di sana Krakatau dan musisi China berkolaborasi memainkan lagu-lagu daerah dari Indonesia. Dwiki Dharmawan, Pra Budidharma, dan kawan-kawan tampil bersama orkes gesek Asia Harmony Orchestra, serta World Music Ensemble, sebuah ensemble instrumen musik tradisional China yang berawak 14 mahasiswa Konservatori Musik China.

Dari kolaborasi itu mengalirlah Bengawan Solo gubahan Gesang yang dibawakan Ita Purnamasari dan Yong-Yong dalam bahasa Indonesia-Mandarin. Kemudian Ilir-ilir dari Jawa, Janger Bali, Ayo Mama dari Maluku, sampai Yamko Rambe dari Papua. Lagu-lagu itu disuguhkan di depan sekitar seribu penonton dari berbagai bangsa.

Krakatau sangat cerdik berkomunikasi lewat musik. Mereka menggunakan jazz sebagai semacam musica franca, “bahasa” pergaulan bagi telinga dari berbagai latar kultural. Pada bagian jazz ini ada Dwiki Dharmawan pada piano, bas dari Pra Budidharma, serta drum dari Gerry Herb. Bersamaan dengan itu, mereka membawa rasa Indonesia lewat seperangkat instrumen tradisi. Pada bagian ini ada kendang Sunda yang dimainkan Ade Rudiatna, lalu rebab dan tarompet oleh Yoyon Darsono, serta kecapi, bonang multilaras, hingga perkusi Batak taganing dari Zainal Arifin.

Di Beijing, Ilir-ilir dimulai dengan intro berupa improvisasi piano solo dari Dwiki yang menggunakan grand piano akustik. Melodi tembang dikembangkan dalam improvisasi piano. Ini menjadi semacam appetizer, suguhan pengantar untuk masuk ke dalam komposisi lebih lanjut. Dari rasa jazz, Ilir-ilir bersambung ke permainan kecapi dan suling yang menghadirkan atmosfer tanah Pasundan. Baru setelah itu muncul pesinden Peni Chandra Rini dengan cengkok sangat Jawa yang merdu melantunkan bowo atau semacam pembuka lagu: “lir-ilir, lir-ilir tandure wis semilir, tak ijo royo-royo….” Kali ini suasana telah mengindonesia—paduan Jawa dan Sunda yang sama-sama nyaman, teduh, dan harmonis.

Ilir-ilir pada bagian komposisi selanjutnya mendapat sentuhan China lewat instrumen tradisi seperti seruling dizi, alat berdawai Yangqin, rebab Erhu, serta alat serupa gitar bernama pipa. Ensemble versi tradisi ini berpadu dengan seksi gesek memainkan melodi yang kurang lebih sama sehingga memberi kesan sekadar main rame-rame, bareng-bareng. Suasana rame-rame itu berakhir ketika Ilir-ilir lalu ditarik ke rasa jazz swing. Cara ini sangat komunikatif. Setidaknya itu terlihat dari penonton di balkon yang terlihat mengentak-entakkan kaki seturut ketukan.

Kekomunikatifan musik Krakatau diperkuat oleh penampilan penari Didik Nini Thowok pada Genjring Party dan Impen-impenan. Genjring atau semacam rebana menjadi tulang punggung komposisi Genjring Party yang menonjolkan unsur perkusi. Didik menampilkan kreasi lamanya, yaitu tari Dwimuka yang populer karena sering dibawakan Didik di berbagai kesempatan, termasuk di hajatan perkawinan. Ia mengenakan dua topeng pada wajah dan bagian belakang kepala. Ketika dalam posisi membelakangi penonton, tubuh dan gerak Didik memberi impresi seakan-akan tengah menghadap penonton.

Komposisi yang sangat perkusif itu memanjakan Didik dengan gerak bebas yang impulsif hingga memberi efek komedik. Penonton terpingkal-pingkal menikmati paduan musik Krakatau dan gerak tari Didik yang sama-sama spontan, improvisatif.

Fusi

Dengan format jazz “plus”-nya selama ini, Krakatau luwes mengakomodasikan berbagai unsur etnis dalam suguhan musik mereka. Seperti disebut dosen dan pengamat musik Franki Raden dalam workshop jazz di Jakarta akhir Oktober lalu, musik Krakatau memberi distingsi tersendiri bagi penikmat musik di luar Indonesia yang belum terbiasa dengan musik tradisional di Indonesia. Krakatau berpijak pada jazz, tapi membuka diri untuk masuknya rasa tradisi.

Krakatau lahir dari musisi muda era awal 1980-an yang sedang semangat-semangatnya memainkan fusion. Awalnya, kata Pra, mereka mulai dengan “fusion-fusion-an” gaya Amerika. Pra (52) yang tumbuh di Bandung kemudian menggagas untuk mem-fusi-kan jazz dengan elemen musik Sunda. “Sunda itu yang dekat dengan saya sejak kecil,” kata Pra yang tinggal di bilangan Cipaganti, Bandung.

Gagasan itu belum bisa terwujud karena secara komersial industri musik di Indonesia saat itu belum memberi ruang yang layak untuk musik eksperimental. Krakatau yang kemudian terbentuk bersama Pra, Dwiki, Indra, Gilang Ramadhan, dan Donny Suhendra plus vokal Trie Utami malah populer dengan empat album popnya.

Krakatau sempat vakum. Pra bereksperimen dengan membuat album pop Sunda kreatif dengan Trie Utami dan seniman karawitan Sunda, Yoyon Darsono. Proyek ini menjadi semacam cikal bakal Krakatau. Belakangan, Pra dan Dwiki mewujudkan gagasan awal, yaitu memainkan fusion, fusi antara jazz dan musik Sunda. Secara kebetulan, Dwiki Dharmawan mempunyai memori auditif yang kuat dengan karawitan Sunda. Rumah Dwiki hanya berbatas pagar tembok dengan Kampus Akademi Seni Karawitan Indonesia (ASKI) Bandung yang kini menjadi STSI dan hampir setiap hari ia mendengar mahasiswa berlatih.

Untuk mewujudkan gagasan itu diajaklah seniman karawitan Sunda, yaitu Yoyon Darsono dan Ade Rudiatna. Keduanya adalah pengajar di STSI Bandung. Kali ini Krakatau diperkuat pemain drum Budi Haryono. Mereka melakukan eksplorasi untuk memasukkan unsur Sunda dengan jazz. “Tiga tahun kami menyelaraskan pola pukulan kendang dengan drum,” kenang Ade Rudiatna.

Eksplorasi mereka mulai dipresentasikan di depan publik, 1993. Penikmat jazz merespons seru kreasi Krakatau tersebut. Setahun kemudian lahirlah album “Mystical Mist”. Krakatau terus menggali potensi ritme, bunyi-bunyian, dan nuansa etnis dalam balutan jazz lewat “Magical Match” (2000), “2 Worlds” (2005), sampai “Rhytms of Reformation” (2005).

Jazz tetap menjadi sikap kreatif seniman Krakatau. Mereka tidak menabukan perubahan dengan terpencarian dan terus bereksplorasi. Jazz juga tetap menjadi platform komposisi. Jazz menjadi dasar untuk mewadahi unsur-unsur etnis yang di Krakatau diberi ruang luas untuk bereksplorasi.

“Secara organologis saya bermain kendang. Kami bermain dengan pendekatan tradisi, tapi tradisi itu sudah mengalami modifikasi. Ketika kami main swing, maka kendang menjadi perkusi pada umumnya. Saya melakukan tafsir lewat kendang. Saya sadar tidak sedang berada di wilayah tradisi. Saya melebur dalam totalitas bermain kendang. Jadi, di satu sisi kami diajak, tapi tidak sebagai tambahan,” kata Ade Rudiatna.

“Identitas Sunda tidak sampai hilang. Saya memperlakukan rebab sebagai rebab Sunda. Tidak dengan gaya orang main biola, misalnya,” kata Yoyon Darsono.

Adanya kejelasan identitas dan ruang kreatif dari setiap individu inilah yang menjadikan Krakatau bisa bereksplorasi dengan beragam bunyi dan ritme. Mereka bisa memasukkan rasa Indonesia dan bahkan China sekalipun dengan nyaman, seperti yang mereka suguhkan di Beijing.

Acara yang didukung Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia serta KBRI di China ini menjadi semacam jendela kebudayaan Indonesia. Musisi China diajak memainkan musik dari Indonesia dan diperdengarkan untuk hadirin dari berbagai negara.

“Harapan kami orang menjadi kenal dengan Indonesia dan mau datang ke negeri. Selanjutnya, lewat musik bisa terjalin persahabatan antara China dan Indonesia,” kata Wakil Duta Besar Indonesia Mohammad Umar.

Sumber: http://www.kompas.com/kompas-cetak/0711/11/nasional/3982042.htm

Leave a Reply

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture.
Anti-Spam Image

My Video

Browse

Calendar

November 2007
M T W T F S S
« Jul   Dec »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

News Categories

Partners site

www.musikita.biz
www.farabimusic.com

Links