15 December 2007
Press Release Krakatau @GKJ World Music Festival 2007
Posted by admin under: Festival; Gigs; Releases .
Kalau saja Pra Budidharma tidak jatuh cinta pada musik tradisional yang diakrabinya sejak kecil di Bandung, mungkin penonton di berbagai kota dunia tidak terkesima dengan penampilan Krakatau, seperti halnya penonton di Toronto Jazz Festival di Kanada, yang bahkSejak 1992, Krakatau memang mulai menanggalkan gaya bermusiknya, fusion-jazz, yang dimainkan mereka sejak tahun 1985, dimana musisi muda terkenal di Indonesia, seperti Pra B Dharma, Dwiki Dharmawan, Indra Lesmana, Donny Suhendra, Gilang Ramadan, Budhi Haryono dan Trie Utami, pernah bergabung. Pra mengajak Dwiki untuk mulai mengeksplorasi musik etnik Sunda. Mereka mendapat dukungan dan keterlibatan penuh dari Kang Yoyon Darsono (pemain rebab Sunda, terompet tradisional Sunda dan suling bamboo, dan juga bernyanyi) dan Kang Ade Rudiana (pemain perkusi tradisional, seperti gendang Sunda). Keduanya adalah dosen musik Karawitan di STSI, Bandung. Pada tahun 1993, Krakatau menelorkan album “Mystical Mist”, dimana Trie Utami terlibat sebagai vokalis dan Budhi Haryono menabuh drum. Mulai dari saat itu, banyak penyelenggara festival musik dunia mengalirkan undangan buat Krakatau. Keunikan dari grup ini, bukan sekedar bisa menggabungkan musik diatonik dengan pentatonik amat apik, tapi bass yang dipergunakan Pra sudah di-set sedemikian rupa sehingga nada dasarnya seperti halnya nada dasar slendro pada gamelan. Demikian pula dengan keyboard yang dipakai Dwiki, teknologi microtuning membuat nada-nada yang dihasilkan tidak sebagaimana nada dasar musik Barat, tapi menjadi nada dasar musik tradisional gamelan. Menurut pengamat musik Frans Sartono, Krakatau adalah grup yang cerdik berkomunikasi lewat musik, mereka menggunakan jazz sebagai semacam musica franca, “bahasa” pergaulan bagi telinga dari berbagai latar kultural. Di sisi lain, bersamaan dengan itu mereka membawa rasa Indonesia dengan eksplorasi pada musik-musik tradisional Indonesia. Krakatau berpijak pada jazz tapi membuka diri untuk masuknya rasa tradisi, sehingga musik Krakatau memberi keunikan tersendiri bagi penikmat musik di luar Indonesia yang belum terbiasa dengan musik tradisional di Indonesia.
Setelah sempat tujuh tahun vakum dari dunia rekaman, pada tahun 2000, Krakatau kembali merilis album “Magical Match”. Pada album ini, Krakatau memperkuat barisannya dengan kehadiran Kang Zainal Arifin, Kang Oseng dan Kang Effix Zulfikar. Seusai penggarapan album ini, Krakatau kembali memenuhi undangan pertunjukkan, diantaranya event bergengsi, seperti Montreux Jazz Festival, North Sea Jazz Festival, Toronto Downtown Jazz, Vancouver International Jazz Festival, Lincoln Center Summer Festival, Esplanade, Sziget Festival, Midem dan lain-lain.
Pada perjalanan Krakatau North American Tour (2004), Ubiet (Nyak Ina Raseuki) mulai bergabung dengan Krakatau, menggantikan Trie Utami pada vokal. Bergabungnya Ubiet yang juga merupakan peneliti sekaligus sarjana ethnomusicology, menambah kaya warna musik yang disajikan Krakatau. Karena Ubiet menguasai olah vokal dengan bunyi-bunyian tradisional, seperti yang ia teliti selama ini.
Pada tahun 2006, dua album, “2 Worlds” dan ‘Rhythm of Reformation”, sekaligus diluncurkan Krakatau. Kali ini formasi Krakatau menjadi Dwiki Dharmawan, Pra Budidharma, Ubiet, Gerry Herb, Zainal Arifin, Ade Rudiana dan Yoyon Darsono. Di bawah label independen Musikita Records, album “2 Worlds” direkam di Jakarta, Chicago dan Toronto, karena melibatkan pula musisi dari Amerika Serikat dan Kanada, antara lain Howard Levy, Carlo Actis Dato, Ron Davis, Reg Schwaggerdan lain-lain. Bagi Krakatau, kolaborasi dengan musisi dan kelompok dari negara setempat baik pada pagelaran maupun rekaman menjadi bahasa yang ampuh bagi diplomasi budaya Indonesia serta untuk meningkatkan kerjasama kebudayaan antar bangsa. Sementara itu, salah satu pendiri grup Krakatau, Dwiki Dharmawan mempunyai pengalaman luas bermain bersama baik dalam konser maupun rekaman dengan banyak musisi jazz internasional diantaranya Mike Stern, Jimmy Haslip, Russel Ferrante, Sadao Watanabe, Frank Gambale dan lain-lain.
Baru-baru ini, dalam rangka meningkatkan kerjasama budaya tersebut, Krakatau berhasil memukau publik Beijing pada ‘The Rhythm of Indonesia’ yang diadakan pada tanggal 7 November 2007. Pada kesempatan tersebut, Krakatau berkolaborasi dengan Central Conservatory World Music Ensemble, Beijing dan Asian Harmony Orchestra, Beijing. Ditambah lagi Krakatau turut melibatkan pesinden Jawa asal Solo, Peni Candrarini, yang selama ini kerap tampil bersama Rahayu Supanggah dan Wayan Sadra. Penari Didik Nini Thowok pun menari bersama Krakatau pada nomor ‘Impen-impenan’ dan ‘Genjring Party’.
Pada penghujung tahun 2007 ini, Ubiet, yang baru saja menyelesaikan album terbarunya “Kroncong Tenggara”, berencana kembali ke Madison, Amerika Serikat demi menyelesaikan program doktoral ethnomusicology-nya di University of Wisconsin atas bimbingan Profesor Anderson Sutton. Sedangkan Dwiki mulai sering diundang menjadi visiting lecture di Musician Institute, Hollywood yang membuatya semakin sering bolak-balik ke Amerika Serikat.
Tahun 2008 yang akan datang, Krakatau berencana untuk mengadakan pagelaran di Forbidden City, China dan berkolaborasi dengan National Symphony Orchestra serta Central Conservatory World Music Orchestra. Setelah itu, grup kebanggaan Indonesia tersebut akan pula melakukan pagelaran di Mexico City dalam rangka memperingati 55 tahun hubungan diplomatik Meksiko dan Indonesia, serta turut ambil bagian dalam sebuah pagelaran di Wina, Austria bertajuk Expo Indonesia.
Sebagai anak bangsa, setiap anggota Krakatau merasa bersyukur dan bangga memiliki kesempatan membawa kekayaan seni musik dari budaya nusantara ke hadapan publik dunia yang memiliki latar belakang kebudayaan yang berbeda-beda. Seluruh anggota Krakatau berterima kasih atas dukungan dan doa dari keluarga, rekan-rekan seniman, teman-teman dari media massa, dan saudara sebangsa indonesia. Semoga seni budaya Indonesia makin berkembang dan pelaku seni tradisional Indonesia di setiap daerah tidak henti mencintai dan berkarya. Terima kasih Indonesia.
5 Comments so far...
setra Says:
16 December 2007 at 6:54 am.
mungkin perlu sekali-kali di adakan workshop mengenai kolaborasi musik etnis dengan modern, kalo memang ada rencana workshop–jogja menyambut dengan gembira,
salam
didik oseng Says:
10 January 2008 at 11:43 am.
Salam kenal buat Kang Oseng dari krakatau band
Ternyata ada oseng lain selain didik oseng, semoga kita bisa berteman
Salam,
didik oseng.
http://donkopings.wordpress.com
u_guh Says:
3 March 2008 at 5:11 pm.
Bravo…Krakatau..!!
>>>”krakatau”….is @Live_style…! no,doubht…..’keren abizz…keren…keren….
salute…..
u_guh
dimas Says:
12 August 2008 at 9:49 pm.
keren abis mas krakatau!!!tapi knp ya kok jarang maen2 di dalam negeri kita2 dah nunggu mas.apalagi di jogja.kalo butuh pemain perkusi mas!!!!heheheheheheeh
saat ini beberapa personil krakatau sedang berada di luar negeri sehingga Krakatau vakum hingga menjelang pertunjukan di Mexico, oktober 2008 nanti. Ka Ubiet sedang menyelesaikan sekolahnya di Madison, USA. sementara Kang Yoyon sedang mengajar di Paris
wyn Says:
22 October 2009 at 11:32 pm.
slamat mengarungi perjalanan 25th di blantika musik domestik dan dunia, buat Krakatau Band beserta seluruh personilnya. next, terus bereksplorasi n berjaya. than, setelah menyaksikan penampilan penuh energi Krakatau (25th Anniversary Krakatau) kamis malam (22/10) di bentara budaya jkt, kami tunggu penampilan yg lebih seru lagi di th depan, janji.

