<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Krakatau Band &#187; Gigs</title>
	<atom:link href="http://www.krakatau.net/category/gigs/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.krakatau.net</link>
	<description>Karawitan music with progression of modern sound</description>
	<lastBuildDate>Sat, 24 Oct 2009 10:03:01 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Tour ke Mexico, Krakatau siapkan lagu baru</title>
		<link>http://www.krakatau.net/2008/09/21/tour-ke-mexico-krakatau-siapkan-lagu-baru/</link>
		<comments>http://www.krakatau.net/2008/09/21/tour-ke-mexico-krakatau-siapkan-lagu-baru/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 21 Sep 2008 07:14:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Festival]]></category>
		<category><![CDATA[Gigs]]></category>
		<category><![CDATA[News]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.krakatau.net/?p=102</guid>
		<description><![CDATA[Grupo de músicos de Indonesia que fusiona jazz, pop y rock con los ritmos tradicionales de su nación en una propuesta contemporánea. Se fundó en Bandung, Java Occidental en 1985, y está integrada por guitarra, piano, bajo y batería. La banda hizo su debut internacional en 1985, participando en el evento Yamaha Bands Explosion en [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.wartajazz.com/wp-content/uploads/2008/09/cervantino-2008.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-2787" title="cervantino-2008" src="http://www.wartajazz.com/wp-content/uploads/2008/09/cervantino-2008.jpg" alt="" width="350" height="207" /></a><em>Grupo de músicos de Indonesia que fusiona jazz, pop y rock con los ritmos tradicionales de su nación en una propuesta contemporánea. Se fundó en Bandung, Java Occidental en 1985, y está integrada por guitarra, piano, bajo y batería. La banda hizo su debut internacional en 1985, participando en el evento Yamaha Bands Explosion en Tokyo, Japón.</em></p>
<p>Penggalan kata diatas adalah deskripsi yang terpampang disitus Festival International Cervantes di Mexico yang mengundang kelompok Krakatau untuk tampil disana 16 Oktober 2008.</p>
<p>Krakatau yang akan berangkat dengan formasi <strong>Pra Budi Dharma</strong> (slendro fretless bass); <strong>Dwiki Dharmawan</strong> (keyboard); <strong>Adhe Rudyana</strong> (kendang &amp; perkusi); <strong>Zainal Arifin</strong> (gamelan  &amp; perkusi); <strong>Gerry Herb</strong> (drums); juga melibatkan <strong>Ita Purnamasari, Didik Ninik Thowok </strong>beserta 4 penari dari STSI Bandung. Sementara <strong>Ubiet </strong>(voice) yang sedang menyelesaikan program doktoralnya di Universitas Wisconsin akan terbang langsung menuju Mexico City dari Madison USA. Satu personil berhalangan hadir yaitu <strong>Yoyon Dharsono</strong> (rebab, tarompet, voice) sedang menjadi gamelan artists in residence di Perancis.</p>
<p>Ditemui kala tengah berbuka puasa bersama personil Krakatau di sekolah musik Farabi Dharmawangsa minggu lalu, Pra Budi Dharma yang didampingi Dwiki Dharmawan mengatakan akan menyiapkan sebuah lagu berjudul &#8220;Mexican Spirit&#8221; sebagai persembahan dalam pertunjukan mereka di Mexico nanti.</p>
<p>Tak hanya itu, mereka juga akan melakukan kolaborasi dengan <strong>Sociedad Acoustica </strong>dan <strong>Mexico Orchestra </strong>dalam lagu berjudul &#8220;The Spirit of Peace&#8221;. Khusus dengan kelompok ini, Krakatau tampil dalam acara terpisah yaitu memperingati 55 tahun Hubungan Diplomasi Republik Indonesia dan Mexico bertempat di Sala Nezahualcoyot UNAM Mexico City tanggal 12 Oktober 2008. Sementara <strong>Ita Purnamasari</strong> &#8211; penyanyi yang juga istri Dwiki Dharmawan akan tampil membawakan lagu Bengawan Solo.</p>
<p>Krakatau dijadwalkan bertolak menuju Mexico via Amsterdam tanggal 8 Oktober dan kembali pada 19 Oktober 2008.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.krakatau.net/2008/09/21/tour-ke-mexico-krakatau-siapkan-lagu-baru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Press Release Krakatau @GKJ World Music Festival 2007</title>
		<link>http://www.krakatau.net/2007/12/15/press-release-krakatau-gkj-world-music-festival-2007/</link>
		<comments>http://www.krakatau.net/2007/12/15/press-release-krakatau-gkj-world-music-festival-2007/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 15 Dec 2007 08:58:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Festival]]></category>
		<category><![CDATA[Gigs]]></category>
		<category><![CDATA[Releases]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.krakatau.net/2007/12/15/press-release-krakatau-gkj-world-music-festival-2007/</guid>
		<description><![CDATA[Kalau saja Pra Budidharma tidak jatuh cinta pada musik tradisional yang diakrabinya sejak kecil di Bandung, mungkin penonton di berbagai kota dunia tidak terkesima dengan penampilan Krakatau, seperti halnya penonton di Toronto Jazz Festival di Kanada, yang bahkSejak 1992, Krakatau memang mulai menanggalkan gaya bermusiknya, fusion-jazz, yang dimainkan mereka sejak tahun 1985, dimana musisi muda [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kalau saja Pra Budidharma tidak jatuh cinta pada musik tradisional yang diakrabinya sejak kecil di Bandung, mungkin penonton di berbagai kota dunia tidak terkesima dengan penampilan Krakatau, seperti halnya penonton di Toronto Jazz Festival di Kanada, yang bahkSejak 1992, Krakatau memang mulai menanggalkan gaya bermusiknya, fusion-jazz, yang dimainkan mereka sejak tahun 1985, dimana musisi muda terkenal di Indonesia, seperti Pra B Dharma, Dwiki Dharmawan, Indra Lesmana, Donny Suhendra, Gilang Ramadan, Budhi Haryono dan Trie Utami, pernah bergabung.  Pra mengajak Dwiki untuk mulai mengeksplorasi musik etnik Sunda. Mereka mendapat dukungan dan keterlibatan penuh dari Kang Yoyon Darsono (pemain rebab Sunda, terompet tradisional Sunda dan suling bamboo, dan juga bernyanyi) dan Kang Ade Rudiana (pemain perkusi tradisional, seperti gendang Sunda). Keduanya adalah dosen musik Karawitan di STSI, Bandung. Pada tahun 1993, Krakatau menelorkan album “Mystical Mist”, dimana Trie Utami terlibat sebagai vokalis dan Budhi Haryono menabuh drum. Mulai dari saat itu, banyak penyelenggara festival musik dunia mengalirkan undangan buat Krakatau. Keunikan dari grup ini, bukan sekedar bisa menggabungkan musik diatonik dengan pentatonik amat apik, tapi bass yang dipergunakan Pra sudah di-set sedemikian rupa sehingga nada dasarnya seperti halnya nada dasar slendro pada gamelan. Demikian pula dengan keyboard yang dipakai Dwiki, teknologi microtuning membuat nada-nada yang dihasilkan tidak sebagaimana nada dasar musik Barat, tapi menjadi nada dasar musik tradisional gamelan.  Menurut pengamat musik Frans Sartono, Krakatau adalah grup yang cerdik berkomunikasi lewat musik, mereka menggunakan jazz sebagai semacam musica franca, “bahasa” pergaulan bagi telinga dari berbagai latar kultural. Di sisi lain, bersamaan dengan itu mereka membawa rasa Indonesia dengan eksplorasi pada musik-musik tradisional Indonesia. Krakatau berpijak pada jazz tapi membuka diri untuk  masuknya rasa tradisi, sehingga musik Krakatau memberi keunikan tersendiri bagi penikmat musik di luar Indonesia yang belum terbiasa dengan musik tradisional di Indonesia.</p>
<p>Setelah sempat tujuh tahun vakum dari dunia rekaman, pada tahun 2000, Krakatau kembali merilis album “Magical Match”. Pada album ini, Krakatau memperkuat barisannya dengan kehadiran Kang Zainal Arifin, Kang  Oseng dan Kang Effix Zulfikar. Seusai penggarapan album ini, Krakatau kembali memenuhi undangan pertunjukkan, diantaranya event bergengsi, seperti Montreux Jazz Festival, North Sea Jazz Festival, Toronto Downtown Jazz, Vancouver International Jazz Festival, Lincoln Center Summer Festival, Esplanade, Sziget Festival, Midem dan lain-lain.</p>
<p>Pada perjalanan Krakatau North American Tour (2004), Ubiet (Nyak Ina Raseuki) mulai bergabung dengan Krakatau, menggantikan Trie Utami pada vokal. Bergabungnya Ubiet yang juga merupakan peneliti sekaligus sarjana ethnomusicology, menambah kaya warna musik yang disajikan Krakatau. Karena Ubiet menguasai olah vokal dengan bunyi-bunyian tradisional, seperti yang ia teliti selama ini.</p>
<p>Pada tahun 2006, dua album, “2 Worlds” dan ‘Rhythm of Reformation”,  sekaligus diluncurkan Krakatau.  Kali ini formasi Krakatau menjadi Dwiki Dharmawan, Pra Budidharma, Ubiet, Gerry Herb, Zainal Arifin, Ade Rudiana dan Yoyon Darsono. Di bawah label independen Musikita Records, album “2 Worlds” direkam di Jakarta, Chicago dan Toronto, karena melibatkan pula musisi dari Amerika Serikat dan Kanada, antara lain Howard Levy, Carlo Actis Dato, Ron Davis, Reg Schwaggerdan lain-lain.   Bagi Krakatau, kolaborasi dengan musisi dan kelompok dari negara setempat baik pada pagelaran maupun rekaman menjadi bahasa yang ampuh bagi diplomasi budaya Indonesia serta untuk meningkatkan kerjasama kebudayaan antar bangsa.  Sementara itu, salah satu pendiri grup Krakatau, Dwiki Dharmawan mempunyai pengalaman luas bermain bersama baik dalam konser maupun rekaman dengan banyak musisi jazz internasional diantaranya Mike Stern, Jimmy Haslip, Russel Ferrante, Sadao Watanabe, Frank Gambale dan lain-lain.</p>
<p>Baru-baru ini, dalam rangka meningkatkan kerjasama budaya tersebut, Krakatau berhasil memukau publik Beijing pada ‘The Rhythm of Indonesia’ yang diadakan pada tanggal 7 November 2007. Pada kesempatan tersebut, Krakatau berkolaborasi dengan Central Conservatory World Music Ensemble, Beijing dan Asian Harmony Orchestra, Beijing.  Ditambah lagi Krakatau turut melibatkan pesinden Jawa asal Solo, Peni Candrarini, yang selama ini kerap tampil bersama Rahayu Supanggah dan Wayan Sadra.  Penari Didik Nini Thowok pun menari bersama Krakatau pada nomor ‘Impen-impenan’ dan ‘Genjring Party’.</p>
<p>Pada penghujung tahun 2007 ini, Ubiet, yang baru saja menyelesaikan album terbarunya “Kroncong Tenggara”, berencana kembali ke Madison, Amerika Serikat demi menyelesaikan program doktoral ethnomusicology-nya di University of Wisconsin atas bimbingan Profesor Anderson Sutton. Sedangkan Dwiki mulai sering diundang menjadi visiting lecture di Musician Institute, Hollywood yang membuatya semakin sering bolak-balik ke Amerika Serikat.</p>
<p>Tahun 2008 yang akan datang, Krakatau berencana untuk mengadakan pagelaran di Forbidden City, China dan berkolaborasi dengan National Symphony Orchestra serta Central Conservatory World Music Orchestra. Setelah itu, grup kebanggaan Indonesia tersebut akan pula melakukan pagelaran di Mexico City dalam rangka memperingati 55 tahun hubungan diplomatik Meksiko dan Indonesia, serta turut ambil bagian dalam sebuah pagelaran di Wina, Austria bertajuk Expo Indonesia.</p>
<p>Sebagai anak bangsa, setiap anggota Krakatau merasa bersyukur dan bangga memiliki kesempatan membawa kekayaan seni musik dari budaya nusantara ke hadapan publik dunia yang memiliki latar belakang kebudayaan yang berbeda-beda.  Seluruh anggota Krakatau berterima kasih atas dukungan dan doa dari keluarga, rekan-rekan seniman, teman-teman dari media massa, dan saudara sebangsa indonesia.  Semoga seni budaya Indonesia makin berkembang dan pelaku seni tradisional Indonesia di setiap daerah tidak henti mencintai dan berkarya.  Terima kasih Indonesia.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.krakatau.net/2007/12/15/press-release-krakatau-gkj-world-music-festival-2007/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Konser&#8221;Ilir-ilir&#8221; di Beijing</title>
		<link>http://www.krakatau.net/2007/11/11/konserilir-ilir-di-beijing/</link>
		<comments>http://www.krakatau.net/2007/11/11/konserilir-ilir-di-beijing/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Nov 2007 03:13:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gigs]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.krakatau.net/2007/11/11/konserilir-ilir-di-beijing/</guid>
		<description><![CDATA[oleh Frans Sartono
Ilir-ilir, tembang Jawa itu, hadir dalam sentuhan Sunda dan jazz di negeri China. Itulah salah satu suguhan Krakatau dalam konser &#8220;The Rhythms of Indonesia&#8221; di Beijing Concert Hall, Beijing, China, pada Rabu (7/11) malam.
Beijing Concert Hall yang terletak sekitar satu kilometer dari lapangan bersejarah Tiananmen itu menjadi ajang pergaulan budaya. Di sana Krakatau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>oleh Frans Sartono</p>
<p>Ilir-ilir, tembang Jawa itu, hadir dalam sentuhan Sunda dan jazz di negeri China. Itulah salah satu suguhan Krakatau dalam konser &#8220;The Rhythms of Indonesia&#8221; di Beijing Concert Hall, Beijing, China, pada Rabu (7/11) malam.</p>
<p>Beijing Concert Hall yang terletak sekitar satu kilometer dari lapangan bersejarah Tiananmen itu menjadi ajang pergaulan budaya. Di sana Krakatau dan musisi China berkolaborasi memainkan lagu-lagu daerah dari Indonesia. <strong>Dwiki Dharmawan, Pra Budidharma</strong>, dan kawan-kawan tampil bersama orkes gesek Asia Harmony Orchestra, serta World Music Ensemble, sebuah ensemble instrumen musik tradisional China yang berawak 14 mahasiswa Konservatori Musik China.</p>
<p>Dari kolaborasi itu mengalirlah Bengawan Solo gubahan Gesang yang dibawakan Ita Purnamasari dan Yong-Yong dalam bahasa Indonesia-Mandarin. Kemudian Ilir-ilir dari Jawa, Janger Bali, Ayo Mama dari Maluku, sampai Yamko Rambe dari Papua. Lagu-lagu itu disuguhkan di depan sekitar seribu penonton dari berbagai bangsa.</p>
<p>Krakatau sangat cerdik berkomunikasi lewat musik. Mereka menggunakan jazz sebagai semacam <em>musica franca</em>, &#8220;bahasa&#8221; pergaulan bagi telinga dari berbagai latar kultural. Pada bagian jazz ini ada Dwiki Dharmawan pada piano, bas dari Pra Budidharma, serta drum dari <strong>Gerry Herb</strong>. Bersamaan dengan itu, mereka membawa rasa Indonesia lewat seperangkat instrumen tradisi. Pada bagian ini ada kendang Sunda yang dimainkan <strong>Ade Rudiatna</strong>, lalu rebab dan tarompet oleh <strong>Yoyon Darsono</strong>, serta kecapi, bonang multilaras, hingga perkusi Batak taganing dari <strong>Zainal Arifin</strong>.</p>
<p>Di Beijing, Ilir-ilir dimulai dengan intro berupa improvisasi piano solo dari Dwiki yang menggunakan grand piano akustik. Melodi tembang dikembangkan dalam improvisasi piano. Ini menjadi semacam appetizer, suguhan pengantar untuk masuk ke dalam komposisi lebih lanjut. Dari rasa jazz, Ilir-ilir bersambung ke permainan kecapi dan suling yang menghadirkan atmosfer tanah Pasundan. Baru setelah itu muncul pesinden <strong>Peni Chandra Rini </strong>dengan cengkok sangat Jawa yang merdu melantunkan bowo atau semacam pembuka lagu: &#8220;lir-ilir, lir-ilir tandure wis semilir, tak ijo royo-royo….&#8221; Kali ini suasana telah mengindonesia—paduan Jawa dan Sunda yang sama-sama nyaman, teduh, dan harmonis.</p>
<p>Ilir-ilir pada bagian komposisi selanjutnya mendapat sentuhan China lewat instrumen tradisi seperti seruling dizi, alat berdawai Yangqin, rebab Erhu, serta alat serupa gitar bernama pipa. Ensemble versi tradisi ini berpadu dengan seksi gesek memainkan melodi yang kurang lebih sama sehingga memberi kesan sekadar main rame-rame, bareng-bareng. Suasana rame-rame itu berakhir ketika Ilir-ilir lalu ditarik ke rasa jazz <em>swing</em>. Cara ini sangat komunikatif. Setidaknya itu terlihat dari penonton di balkon yang terlihat mengentak-entakkan kaki seturut ketukan.</p>
<p>Kekomunikatifan musik Krakatau diperkuat oleh penampilan penari <strong>Didik Nini Thowok</strong> pada Genjring Party dan Impen-impenan. Genjring atau semacam rebana menjadi tulang punggung komposisi Genjring Party yang menonjolkan unsur perkusi. Didik menampilkan kreasi lamanya, yaitu tari Dwimuka yang populer karena sering dibawakan Didik di berbagai kesempatan, termasuk di hajatan perkawinan. Ia mengenakan dua topeng pada wajah dan bagian belakang kepala. Ketika dalam posisi membelakangi penonton, tubuh dan gerak Didik memberi impresi seakan-akan tengah menghadap penonton.</p>
<p>Komposisi yang sangat perkusif itu memanjakan Didik dengan gerak bebas yang impulsif hingga memberi efek komedik. Penonton terpingkal-pingkal menikmati paduan musik Krakatau dan gerak tari Didik yang sama-sama spontan, improvisatif.</p>
<p><strong>Fusi</strong></p>
<p>Dengan format jazz &#8220;plus&#8221;-nya selama ini, Krakatau luwes mengakomodasikan berbagai unsur etnis dalam suguhan musik mereka. Seperti disebut dosen dan pengamat musik <strong>Franki Raden</strong> dalam workshop jazz di Jakarta akhir Oktober lalu, musik Krakatau memberi distingsi tersendiri bagi penikmat musik di luar Indonesia yang belum terbiasa dengan musik tradisional di Indonesia. Krakatau berpijak pada jazz, tapi membuka diri untuk masuknya rasa tradisi.</p>
<p>Krakatau lahir dari musisi muda era awal 1980-an yang sedang semangat-semangatnya memainkan fusion. Awalnya, kata Pra, mereka mulai dengan &#8220;fusion-fusion-an&#8221; gaya Amerika. Pra (52) yang tumbuh di Bandung kemudian menggagas untuk mem-fusi-kan jazz dengan elemen musik Sunda. &#8220;Sunda itu yang dekat dengan saya sejak kecil,&#8221; kata Pra yang tinggal di bilangan Cipaganti, Bandung.</p>
<p>Gagasan itu belum bisa terwujud karena secara komersial industri musik di Indonesia saat itu belum memberi ruang yang layak untuk musik eksperimental. Krakatau yang kemudian terbentuk bersama <strong>Pra, Dwiki, Indra, Gilang Ramadhan</strong>, dan <strong>Donny Suhendra</strong> plus vokal <strong>Trie Utami </strong>malah populer dengan empat album popnya.</p>
<p>Krakatau sempat vakum. Pra bereksperimen dengan membuat album pop Sunda kreatif dengan Trie Utami dan seniman karawitan Sunda, Yoyon Darsono. Proyek ini menjadi semacam cikal bakal Krakatau. Belakangan, Pra dan Dwiki mewujudkan gagasan awal, yaitu memainkan <em>fusion</em>, fusi antara jazz dan musik Sunda. Secara kebetulan, Dwiki Dharmawan mempunyai memori auditif yang kuat dengan karawitan Sunda. Rumah Dwiki hanya berbatas pagar tembok dengan Kampus Akademi Seni Karawitan Indonesia (ASKI) Bandung yang kini menjadi STSI dan hampir setiap hari ia mendengar mahasiswa berlatih.</p>
<p>Untuk mewujudkan gagasan itu diajaklah seniman karawitan Sunda, yaitu Yoyon Darsono dan Ade Rudiatna. Keduanya adalah pengajar di STSI Bandung. Kali ini Krakatau diperkuat pemain drum Budi Haryono. Mereka melakukan eksplorasi untuk memasukkan unsur Sunda dengan jazz. &#8220;Tiga tahun kami menyelaraskan pola pukulan kendang dengan drum,&#8221; kenang Ade Rudiatna.</p>
<p>Eksplorasi mereka mulai dipresentasikan di depan publik, 1993. Penikmat jazz merespons seru kreasi Krakatau tersebut. Setahun kemudian lahirlah album &#8220;Mystical Mist&#8221;. Krakatau terus menggali potensi ritme, bunyi-bunyian, dan nuansa etnis dalam balutan jazz lewat &#8220;Magical Match&#8221; (2000), &#8220;2 Worlds&#8221; (2005), sampai &#8220;Rhytms of Reformation&#8221; (2005).</p>
<p>Jazz tetap menjadi sikap kreatif seniman Krakatau. Mereka tidak menabukan perubahan dengan terpencarian dan terus bereksplorasi. Jazz juga tetap menjadi <em>platform </em>komposisi. Jazz menjadi dasar untuk mewadahi unsur-unsur etnis yang di Krakatau diberi ruang luas untuk bereksplorasi.</p>
<p>&#8220;Secara organologis saya bermain kendang. Kami bermain dengan pendekatan tradisi, tapi tradisi itu sudah mengalami modifikasi. Ketika kami main swing, maka kendang menjadi perkusi pada umumnya. Saya melakukan tafsir lewat kendang. Saya sadar tidak sedang berada di wilayah tradisi. Saya melebur dalam totalitas bermain kendang. Jadi, di satu sisi kami diajak, tapi tidak sebagai tambahan,&#8221; kata Ade Rudiatna.</p>
<p>&#8220;Identitas Sunda tidak sampai hilang. Saya memperlakukan rebab sebagai rebab Sunda. Tidak dengan gaya orang main biola, misalnya,&#8221; kata Yoyon Darsono.</p>
<p>Adanya kejelasan identitas dan ruang kreatif dari setiap individu inilah yang menjadikan Krakatau bisa bereksplorasi dengan beragam bunyi dan ritme. Mereka bisa memasukkan rasa Indonesia dan bahkan China sekalipun dengan nyaman, seperti yang mereka suguhkan di Beijing.</p>
<p>Acara yang didukung Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia serta KBRI di China ini menjadi semacam jendela kebudayaan Indonesia. Musisi China diajak memainkan musik dari Indonesia dan diperdengarkan untuk hadirin dari berbagai negara.</p>
<p>&#8220;Harapan kami orang menjadi kenal dengan Indonesia dan mau datang ke negeri. Selanjutnya, lewat musik bisa terjalin persahabatan antara China dan Indonesia,&#8221; kata Wakil Duta Besar Indonesia Mohammad Umar.</p>
<p>Sumber: http://www.kompas.com/kompas-cetak/0711/11/nasional/3982042.htm</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.krakatau.net/2007/11/11/konserilir-ilir-di-beijing/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dwiki Dharmawan: Konser Beijing</title>
		<link>http://www.krakatau.net/2007/11/03/dwiki-dharmawan-konser-beijing/</link>
		<comments>http://www.krakatau.net/2007/11/03/dwiki-dharmawan-konser-beijing/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Nov 2007 03:12:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gigs]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.krakatau.net/2007/11/03/dwiki-dharmawan-konser-beijing/</guid>
		<description><![CDATA[ Dwiki Dharmawan (40) bersama band Krakatau pada Minggu (4/11) akan berangkat ke Beijing, China. Tanggal 7 November mereka akan menggelar konser The Rhythm of Indonesia, berkolaborasi dengan Orkes Filharmonik China serta Central Conservatory of Chinese Traditional Orchestra. Beberapa karya Krakatau akan dimainkan dengan musik tradisional China.
&#8220;Yang unik, musisi tradisional China diajarkan musik Barat. Jadi, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p> Dwiki Dharmawan (40) bersama band Krakatau pada Minggu (4/11) akan berangkat ke Beijing, China. Tanggal 7 November mereka akan menggelar konser The Rhythm of Indonesia, berkolaborasi dengan Orkes Filharmonik China serta Central Conservatory of Chinese Traditional Orchestra. Beberapa karya Krakatau akan dimainkan dengan musik tradisional China.</p>
<p>&#8220;Yang unik, musisi tradisional China diajarkan musik Barat. Jadi, saya bisa menulis musik Krakatau dengan not balok. Padahal, musik Krakatau tak pernah dinotasikan. Uniknya lagi, kami belum pernah bertemu,&#8221; kata Dwiki yang mendapat dukungan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata.</p>
<p>Di Beijing, Krakatau juga berkolaborasi dengan penari Didik Nini Thowok. Dwiki menyiapkan dua karya Krakatau, Impen-impenan dan Genjring Party untuk ditarikan Didik.</p>
<p>&#8220;Mas Didik sudah turun dari pertapaan di ’kayangan sundul langit’ dan mendapat inspirasi untuk membuat tarian dari musik kami, he-he,&#8221; ujar Dwiki mengutip e-mail Didik.</p>
<p>Acara The Rhythm of Indonesia juga menampilkan Ita Purnamasari, istri Dwiki, dengan lagu Bengawan Solo. Ita akan berduet dengan penyanyi China. &#8220;Tetapi, Ita nyanyi dalam bahasa Indonesia,&#8221; lanjut Dwiki.</p>
<p>Source: http://www.kompas.co.id/ver1/Hiburan/0711/03/061827.htm</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.krakatau.net/2007/11/03/dwiki-dharmawan-konser-beijing/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Krakatau Performance in Toronto Jazz Festival</title>
		<link>http://www.krakatau.net/2007/07/30/krakatau-live-performance-at-gedung-kesenian-jakarta/</link>
		<comments>http://www.krakatau.net/2007/07/30/krakatau-live-performance-at-gedung-kesenian-jakarta/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Jul 2007 16:12:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Festival]]></category>
		<category><![CDATA[Gigs]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.krakatau.net/2007/12/11/krakatau-live-performance-at-gedung-kesenian-jakarta/</guid>
		<description><![CDATA[CLIPPING
SOURCE :KOMPAS MAIN NEWS
Sunday, July 25, 2004

Krakatau’s Performance in Toronto Jazz Festival
Written by: Franki Raden
It’s halfway through the summer, yet the weather in Toronto still makes the people there shiver. For the members of Krakatau, mostly living in Bandung, maybe this kind of weather suits them more instead of the blazing heat of summer.
THIS famous [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>CLIPPING<br />
SOURCE :KOMPAS MAIN NEWS<br />
Sunday, July 25, 2004<br />
<a href="http://www.krakatau.net/wp-content/uploads/2008/03/krakatau_torontojazz3.jpg" title="krakatau_torontojazz3.jpg"><img src="http://www.krakatau.net/wp-content/uploads/2008/03/krakatau_torontojazz3.thumbnail.jpg" alt="krakatau_torontojazz3.jpg" height="125" width="167" /></a><br />
<strong>Krakatau’s Performance in Toronto Jazz Festival</strong><br />
Written by: Franki Raden</p>
<p>It’s halfway through the summer, yet the weather in Toronto still makes the people there shiver. For the members of Krakatau, mostly living in Bandung, maybe this kind of weather suits them more instead of the blazing heat of summer.</p>
<p>THIS famous Indonesian jazz group performs in two prestigious places in Toronto. The first is the Toronto Jazz Festival (TJF), which presents big names, such as Oscar Peterson, Gary Burton, Jean Luc Ponty, Stanley Clark, Al Dimeola, John Scofield, George Benson, Wynton Marsalis, Joey De Francesco, and Michel Camilo, along with numerous local jazz musicians, such as the group of jazz lecturers at the University of Toronto and York University. Krakatau’s second performance takes place in the Royal Conservatory of Music (RCM), an influential center for music activities in Canada. These performances are part of the Krakatau North America Tour 2004, journeying through several cities since June 3 to August 19, 2004.</p>
<p>In TJF (sponsored by TD Canada Trust), Krakatau performs in the center of the festival location, which is at a stage in Nathan Philips Square in front of City Hall. The performance of this famous Indonesian group was not held in the main stage, but it is still a meaningful breakthrough for the Indonesian jazz scene. The audience was willing to soak up the sun in the middle of the day, enthusiastically welcoming Krakatau. Most of them actually said that this is the best jazz group they’ve ever seen. Some audience at RCM also gave the same comment. Moreover, there are a few people who came from out of town just to see Krakatau.</p>
<p>What’s interesting to observe from this event is how the jazz fans (including the local jazz musicians among the audience) in this cultural country of Canada can enjoy the problematic music of Krakatau. First of all, Krakatau’s musical notes are built based on the Sundanese pentatonic element, which may not be easily accepted by the ears of jazz lovers in Canada. Besides that, when the music glides to the improvisation part, the notes used by Dwiki Dharmawan (keyboard), Pra Budi Dharma (bass), Zainal Arifin (multi-synchronized bonang), Yayon Dharsono (vocal, traditional flute, and rebab), and Ubiet (vocal) are no longer heard as pentatonic music, that perhaps is easier to digest. At the moment, the notes they used has transformed into microtonal notes because they combine slendro, pelog, madenda, and matraman notes, all in one octave. The consequence of this combination is the changes of the pitch of each notes in their instruments that are no longer fixated on the international pitch (piano).</p>
<p>As the result, their music in these improvisation parts sounded melodically chaotic, going round and round, and difficult to digest. In the first two songs, the audience in the front stage of Nathan Philip Square looked like they’re having difficulties in following the flow and direction of Krakatau’s music. At the same time, their repertoire didn’t help. Their songs dramaturgy in the beginning felt slow. Especially for Bebuka, which is played as the opening song, the intro is a bit too long. Besides that, they didn’t succeed in getting a good sound balance and quality even though they brought two sound engineers from Indonesia (or perhaps that was the reason?).</p>
<p>Krakatau’s music does offer a new challenge, not only for the listener and sound engineers (who are probably not used to traditional instruments), but also for the Krakatau members themselves. By leaning on the original Sundanese pentatonic notes, their music automatically are dwelling in the heterophonic (multi-layer) music area of gamelan. Meanwhile, their songs are still created with the pattern of homophonic music (melody and accord) of the west. Dwiki and Pra, who are the motor of Krakatau, are aware of this, but it seems that they have not managed to find the right solution for it. At the moment, what’s heard from Krakatau is some sort of dualism. During the song (melody), their music is thick with Sundanese pentatonic. However, when it’s improvisation time, their music changes into “just intonation” jazz music that floats around (not modal, not tonal, and also not atonal).</p>
<p>Actually the jazz development nowadays has traveled so far. Some jazz groups, like Orchestre National de Jazz de France (that performed on the same stage) played &#8220;jazz&#8221; music that is a collage of various genres, just like John Zorn’s music, America’s experimental music icon who’s rising at the moment. But the difference between him and Krakatau is, although their music constantly change, it has a distinct form and shape, not floating here and there. If we listen carefully, free jazz music such as Cecil Taylor or Rosco Mitchell still have this quality. My point of view is still based on the ear (“modern”) in measuring whether a music is good or not. Perhaps in this “post-modern era”, the music lovers have to resynchronize their hearing to be able to digest the music that offers new phenomena like Krakatau.</p>
<p>Unrelated to the aesthetic issue, Krakatau’s performance at TJF intrigued famous Toronto jazz radio, Jazz FM, and jazz critics, the Jazz Times magazine to interview them. In the Jazz FM broadcast the next day, they begin airing the interview with, “Krakatau’s emergence shows how eclectic TJF is. This band managed to amaze the audience on the second day of the festival &#8220;. What’s interesting is how Ron Davis, the group performing after Krakatau, sometimes leans to the atmosphere of Sundanese pentatonic notes used by Krakatau. Before the festival, Ron Davis, Toronto’s well-known jazz pianist, was frequently invited for jam sessions in the recording studio by Krakatau, and he really admires this Indonesian group.</p>
<p>The struggle of Krakatau, motored by Dwiki Dharmawan and Pra Budi Dharma, for these 20 years have not failed them. Their tour to the northern part of America (USA and Canada) have received exciting welcome. It was said that in Vancouver they were very successful. I received an e-mail from Pra Budi Dharma from there saying, “We were having a blast in Vancouver!! There are about 45.000 people here with many support from the Indonesians here…crazy!! Because this is our last gig, we played to our limit, letting ourselves go with the audience’s emotion… The point is everyone’s happy, so the committee asked us to play for them again next year in the Vancouver Jazz Festival”.</p>
<p>So, I think Krakatau has successfully open the international door for other Indonesian jazz groups. The problem now is (1) who’s able to keep playing in one group for that long? and (2) who’s able to perform with their own music style, and not copying other country’s style?</p>
<p>Franki Raden,</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.krakatau.net/2007/07/30/krakatau-live-performance-at-gedung-kesenian-jakarta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Krakatau Pasangkan Rafli-Ubiet</title>
		<link>http://www.krakatau.net/2006/03/06/krakatau-pasangkan-rafli-ubiet/</link>
		<comments>http://www.krakatau.net/2006/03/06/krakatau-pasangkan-rafli-ubiet/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Mar 2006 08:25:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gigs]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost/wordpress/index.php/2006/03/06/krakatau-pasangkan-rafli-ubiet/</guid>
		<description><![CDATA[SURABAYA &#8211; Penampilan Krakatau, grup pimpinan Dwiki Dharmawan, dipastikan bakal memuaskan penonton. Selain mengusung komposisi apik, bintang tamu Rafli, musisi asal Aceh, juga dinilai cocok dengan karakter musik Krakatau. Hal itu diungkapkan Dwiki Dharmawan saat dihubungi Jawa Pos tadi malam. Menurut Dwiki, sembilan komposisi akan mereka bawakan di depan khalayak Surabaya. Di antaranya Bubuka, Bunga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p id="Judul">SURABAYA &#8211; Penampilan Krakatau, grup pimpinan Dwiki Dharmawan, dipastikan bakal memuaskan penonton. Selain mengusung komposisi apik, bintang tamu Rafli, musisi asal Aceh, juga dinilai cocok dengan karakter musik Krakatau. Hal itu diungkapkan Dwiki Dharmawan saat dihubungi Jawa Pos tadi malam. Menurut Dwiki, sembilan komposisi akan mereka bawakan di depan khalayak Surabaya. Di antaranya Bubuka, Bunga Tembaga, Bandung Spirit, Tarek Pukat, dan Menjemput Harapan.</p>
<p id="Body_text">Khusus pada komposisi Menjemput Harapan dan Tarek Pukat, suara merdu Rafli akan berpadu dengan olah musik apik personel Krakatau. &#8220;Dua komposisi itu memang bernuansa etnik Aceh. Kebetulan karakter suara Rafly cocok dengan musik etnik Krakatau,&#8221; ujar Dwiki tadi malam.</p>
<p>Karakter suara musisi asli Tanah Rencong itu tak hanya dinilai cocok dengan karakter musik Krakatau. Bahkan, kata Dwiki, suara Rafli pun pas ketika dipasangkan dengan Ubiet, vokalis Krakatau. Kebetulan Ubiet pun besar di Aceh meski dia lahir di Jakarta. Nah, duet Ubiet dan Rafli itu bakal bisa dinikmati pada komposisi Tarek Pukat.</p>
<p>Pada pertunjukan nanti, Ubiet juga akan bernyanyi pada lagu Bunga Tembaga. &#8220;Di antara sembilan komposisi itu, empat yang memakai vokal,&#8221; terang Dwiki. Lalu, pada lima komposisi berikutnya, Krakatau menyuguhkan kepiawaian mereka meracik instrumen etnik dan jazz.</p>
<p>Krakatau beranggota tujuh orang. Mereka adalah Dwiki Dharmawan (keyboard dan syntesizer), Pra Budi Dharma (electric fretless bass), Adhe Rudhiana (kendang dan perkusi), Yoyon Dharsono (suling, rebab, siter), Zainal Arifin (gamelan dan perkusi), Gerry Herbb (drum), dan Ubiet (vokal).</p>
<p>&#8220;Mereka sedianya ditampilkan pada penutupan FSS. Tetapi, karena berbenturan dengan jadwal tur ke Eropa, Krakatau akhirnya tampil pada pembukaan,&#8221; ujar PO Musik Nasar Bathati.(ode)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.krakatau.net/2006/03/06/krakatau-pasangkan-rafli-ubiet/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Krakatau set to erupt at Taman Ismail Marzuki</title>
		<link>http://www.krakatau.net/2006/02/14/krakatau-set-to-erupt-at-taman-ismail-marzuki/</link>
		<comments>http://www.krakatau.net/2006/02/14/krakatau-set-to-erupt-at-taman-ismail-marzuki/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 Feb 2006 08:24:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Album]]></category>
		<category><![CDATA[Gigs]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost/wordpress/index.php/2006/02/14/krakatau-set-to-erupt-at-taman-ismail-marzuki/</guid>
		<description><![CDATA[The Jakarta Post, Jakarta Fresh from its worldwide tour, seminal fusion band Krakatau is set to stage a homecoming at Taman Ismail Marzuki (TIM) this evening at 8 p.m.
Billed as the 2-Worlds Live In Concert, the seven-member band will bring an attraction that has become the biggest draw of their overseas concerts, a blend of [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>The Jakarta Post, Jakarta Fresh from its worldwide tour, seminal fusion band Krakatau is set to stage a homecoming at Taman Ismail Marzuki (TIM) this evening at 8 p.m.</p>
<p>Billed as the 2-Worlds Live In Concert, the seven-member band will bring an attraction that has become the biggest draw of their overseas concerts, a blend of pentatonic Indonesian ethnic music (traditional gamelan music in particular) and diatonic Western-style jazz music.</p>
<p>In the TIM concert, Krakatau, however, will broaden its musical horizons by incorporating elements of Acehnese traditional music with a song from Acehnese vocalist Teuku Rafly.</p>
<p>The show will also be tinged with flavors of World Music with the presence of Farabi Percussion Ensemble.</p>
<p>After the group&#8217;s musical excursion to these exotic lands, renowned saxophonist Arief Setiadi is expected to bring back a jazz flavor to the show, the first in a year for Krakatau.</p>
<p>The band staged its last gig early last year at the first International Java Jazz Festival.</p>
<p>It will also be the first time in a year that Krakatau will play a venue with its complete lineup: keyboardist Dwiki Dharmawan, bassist Pra Budi Dharma, vocalist Nya&#8217; Ina &#8220;Ubiet&#8221; Raseuki, trumpeter Yoyon Dharsono, percussionist Adhie Rudhiana, gamelan specialist Zainal Arifin and drummer Gerry Herb.</p>
<p>The concert also doubles as the official launch for the band&#8217;s double-disc album, 2-Worlds and Rhythm of Reformation.</p>
<p>Krakatau, one of the jazz supergroups in the country, was founded in 1985 by Dharmawan, a classically-trained musician, and Budhi Dharma, who had just returned from music studies in the U.S.</p>
<p>Later, veteran bassist Donny Soehendra and rock drummer Budhy Haryono joined.</p>
<p>In subsequent years, some of the country&#8217;s best musicians entered the lineup, among them session drummer Gilang Ramadhan, jazz prodigy Indra Lesmana and female singer Trie Utami.</p>
<p>Krakatau made its international debut at the 1985 Yamaha Bands Explosion in Tokyo where Dharmawan bagged a Grand Prix as the most talented keyboardist.</p>
<p>Thus far, the band has performed in 19 countries on four continents, including some of the most respected events in jazz, such as the North Sea Jazz Festival in Rotterdam and the Vancouver International Jazz Festival.</p>
<p>The band will start another leg of its European tour later this year</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.krakatau.net/2006/02/14/krakatau-set-to-erupt-at-taman-ismail-marzuki/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Carlo Actis Dato, Krakatau jam well together</title>
		<link>http://www.krakatau.net/2005/09/25/carlo-actis-dato-krakatau-jam-well-together/</link>
		<comments>http://www.krakatau.net/2005/09/25/carlo-actis-dato-krakatau-jam-well-together/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Sep 2005 08:20:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gigs]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost/wordpress/index.php/2005/09/25/carlo-actis-dato-krakatau-jam-well-together/</guid>
		<description><![CDATA[The Jakarta Post
 Features &#8211; September 25, 2004
John Badalu, Contributor, Jakarta Italy is rarely associated with jazz &#8212; more so with classical music and opera; however the Italian band Actis proved the assumption wrong. Its concert at Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, on Sept. 22, went beyond the audience&#8217;s expectations.
Organized by the Italian Institute [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>The Jakarta Post</p>
<p id="Body_text"> Features &#8211; September 25, 2004<br />
John Badalu, Contributor, Jakarta Italy is rarely associated with jazz &#8212; more so with classical music and opera; however the Italian band Actis proved the assumption wrong. Its concert at Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, on Sept. 22, went beyond the audience&#8217;s expectations.</p>
<p>Organized by the Italian Institute of Culture Jakarta, the band members&#8217; physical appearance was already intimidating before they even started to play. Wearing loose, tribal-pattern clothing, Actis offered an unusual blend of jazz with an ethnic touch.</p>
<p>Led by Carlo Actis Dato playing saxophone and clarinet, Massimo Rossi blowing alto and soprano saxophones, Karsten Lipp on guitar, Federico Marchesano with electric and acoustic bass and Dario Bruna beating the drums, the band was an attractive stage act.</p>
<p>In the first half of the concert, Actis indulged not only our ears but also our eyes. At one point, both saxophonists Actis and Rossi jumped down to the audience and communicated with the audience through their instruments.</p>
<p>On another occasion, Carlo Actis Dato played his saxophone and slowly dismantled his instrument; still playing with less and less of it. Takayama Rap, the first song to open the concert, was an &#8220;urban soundscape&#8221; inspired by the town, Takayama, in Japan.</p>
<p>The tempo went down on the next one, a mellow tune that still made the feet want to tap along. Actis kept us entertained with Los Tiburones (The Sharks), which is a blend of jazz and funk, to Nairobi Night where the music turned from jazz to Middle Eastern. The exploration of jazz took its widest interpretation in the hands of this engaging band.</p>
<p>Carlo Actis Dato started to play clarinet in street bands and dance groups, touring across Europe and the U.S. since the 1970s and recording more than 80 albums.</p>
<p>Back home in Italy, Dato is considered one of the best baritone saxophone players around. Karsten Lipp, the only German in the group, was born in Bremen. He got a scholarship to study at Sienna jazz school and since then has lived in Italy.</p>
<p>Dario Bruna, the drummer, has participated in Umbria Jazz Festival, one of the most important jazz music festivals in Italy. Federico Marchesano graduated from Turin Music School and worked with symphonic orchestras before.</p>
<p>Massimo Rossi has recorded two CDs. He also composes music for actors and dancers. With such dynamic members, Actis produces solid, yet entertaining jazz music in the widest sense of the term.</p>
<p>The second half of the concert was filled with Krakatau, a home band that has been well known since the 1980s. Krakatau has changed over the years &#8212; not only the personnel but also its music.</p>
<p>The new lineup comprises Dwiki Dharmawan on keyboard and synthesizer, Pra Budi Dharma on electric fretless bass, Adhe Rudiana on percussion and kendang (traditional percussion), Yoyon Dharsono on vocals and traditional musical instruments, Zainal Arifin on gamelan and percussion, Gary Herb Siwalette on drums and Nyak Ina Raseuki (Ubiet) on vocals.</p>
<p>Krakatau offered three lengthy songs with improvisation on each instrument and vocals. They played with more jazz as a base but heightened it up with a more ethnic Karawitan sound. More electronics and vocal exploration was a notable feature.</p>
<p>Ubiet did a sensational, short vocal session with many different sounds being articulated.</p>
<p>Playing together, Actis and Krakatau, created a noisy circus beat that searched for harmony at the beginning. At some points the instruments drowned each other out but once they found their own rhythm together, they produced a serene collaboration.</p>
<p>Each musician had a dialog with his counterpart. At the end of the concert, both bands received a standing ovation. It was rare indeed to be able to enjoy a quality concert like this.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.krakatau.net/2005/09/25/carlo-actis-dato-krakatau-jam-well-together/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>KRAKATAU TAMPIL MEMUKAU DI MONTREUX JAZZ FESTIVAL</title>
		<link>http://www.krakatau.net/2005/08/08/krakatau-tampil-memukau-di-montreux-jazz-festival/</link>
		<comments>http://www.krakatau.net/2005/08/08/krakatau-tampil-memukau-di-montreux-jazz-festival/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Aug 2005 08:16:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Festival]]></category>
		<category><![CDATA[Gigs]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost/wordpress/index.php/2005/08/08/krakatau-tampil-memukau-di-montreux-jazz-festival/</guid>
		<description><![CDATA[Seperangkat bonang yang memiliki beragam laras mulai dari Pelog, Slendro dan Madenda diletakkan dibibir panggung. Dwiki Dharmawan berdiri disebelah Ade Rudhiana dan Zainal Arifin, ketiga memukul perangkat gamelan itu sehingga memunculkan beragam bunyi yang tak beraturan tapi unik. Dibelakangnya Pra Budi Dharma memukul kendang berukuran agak besar mengikuti bebunyian bonang.
Penonton berteriak dan memberikan applause yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seperangkat bonang yang memiliki beragam laras mulai dari Pelog, Slendro dan Madenda diletakkan dibibir panggung. Dwiki Dharmawan berdiri disebelah Ade Rudhiana dan Zainal Arifin, ketiga memukul perangkat gamelan itu sehingga memunculkan beragam bunyi yang tak beraturan tapi unik. Dibelakangnya Pra Budi Dharma memukul kendang berukuran agak besar mengikuti bebunyian bonang.</p>
<p>Penonton berteriak dan memberikan applause yang meriah.Itulah akhir lagu Rhytms of Reformation yang membungkus konser pertama Krakatau di Montreux Jazz Festival yang tahun ini memasuki usianya yang ke 39. Festival bergengsi yang dilangsungkan ditepi danau ini dihadiri ribuan orang dari berbagai negara.</p>
<p>Krakatau tampil pada hari pertama ini di Parc de Vernex. Venue yang terletak ditaman disebelah Miles Davis Hall. Lansekap pertunjukan yang menghadap kearah danau dan sebagian bukit disebelah kanan panggung. Sebagian penonton menggelar tikar didepan panggung, sebagian lain, tidur-tiduran dibukit kecil disisinya.</p>
<p>Krakatau tampil kurang lebih 60 menit dengan membawakan lagu-lagu antara lain Gank4, Egrang Funk, Bunga TembagaShufflendang, Tugu Hegar, Bandung Spirit, Uhang Jaeuh, Tarek Pukat dan Rhythms of Reformation. Materi yang disajikan ini diambil dari berbagai album yang telah dirilis oleh kelompok yang telah lebih dari 10 tahun konsisten dengan konsep musik mengusung fusi Karawitan dan Jazz ini.</p>
<p align="center">***</p>
<p>Misi Budaya Krakatau ke Eropa tahun 2005 ini terdiri dari 12 orang anggota tim. <strong>Dwiki Dharmawan</strong> (Keyboard &amp; Syntesizer), <strong>Pra Budi Dharma </strong>(Electric Fretless Bass), <strong>Adhe Rudhiana</strong> (Kendang and Percussions), <strong>Yoyon Dharson</strong>o (Multi Traditional Instruments), <strong>Zainal Arifin</strong> (Gamelan and Percussions), <strong>Gerry Herb</strong> (Drummer) dan vokalis <strong>Nya Ina Raseuki </strong>yang akrab dipanggil Ubiet. Bersama rombongan turut mendukung <strong>Grace Anna Marie </strong>(tour manager), <strong>Wahyu Cahyono dan Boy Nuskan </strong>(sound enginer), <strong>Iko </strong>(cameraman) dan <strong>Agus Setiawan Basuni </strong>(photographer).</p>
<p>Dua hari sebelumnya Krakatau juga tampil luar biasa di Carel Willinkzaal, North Sea Jazz Festival, Den Haag Belanda. Selain itu sempat pula tampil di Heat the Hague, Plains Den Haag, dan Galapajazz di Galapagar, Spanyol.</p>
<p>Rangkaian tur Krakatau ke Spanyol, Belanda, Swiss dan Italia ini didukung sepenuhnya oleh Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia dan Departemen Luar Negeri beserta jajaran pendukung antara lain Kedutaaan Besar di Madrid, Den Haag dan Roma serta Perwakilan Tetap Republik Indonesia di Geneva.</p>
<p align="center">***</p>
<p align="left">Krakatau sendiri sudah berkeliling dunia dan bermain diberagam festival jazz dan musik kelas dunia. Tahun lalu saja, mereka mengeliling 10 tempat di Amerika Serikat dan Kanada. Vancouver International Jazz Festival, St. Paul Hot Summer Jazz Festival, Toronto Downtown International Jazz Festival, Madison Summer Jazz Festival dan Colorado Summer Music Festival adalah festival yang menghadirkan Krakatau dipanggung mereka.</p>
<p>Sungguh sebuah catatan yang manis dari kelompok yang kini telah merilis 4 album &#8211; dua diantaranya yang merupakan album gabungan kolaborasi dan perkusif belum dirilis resmi di Indonesia &#8211; untuk tampil di Montreux Jazz Festival ini.</p>
<p>Sejumlah panitia dan juri di Montreux Jazz Festival ada yang menghampiri anggota Krakatau seusai pertunjukan kemarin. Mereka mengatakan bahwa Krakatau lebih pantas lagi tampil di Miles Davis Hall. &#8220;Benar-benar band dengan kualitas tinggi&#8221;, demikian yang dikutip oleh Wartajazz.com dari Alex, Stage Manager yang menangani panggung Parc de Vernex.</p>
<p>Hari ini rencananya Krakatau akan kembali tampil di stage Under the Sky : Rouvenaz. Dan pada hari Kamis, 14 Juli 2005 akan tampil di Jardin Anglais, Geneva sebelum melanjutkan tur ke Italia, manggung di Roma dan Sicilia. <em><strong>(*/Agus Setiawan B/WartaJazz.com)</strong></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.krakatau.net/2005/08/08/krakatau-tampil-memukau-di-montreux-jazz-festival/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SLENDRO JAZZ DI ALKANTARA FESTIVAL 2005, ITALIA</title>
		<link>http://www.krakatau.net/2005/07/29/slendro-jazz-di-alkantara-festival-2005-italia/</link>
		<comments>http://www.krakatau.net/2005/07/29/slendro-jazz-di-alkantara-festival-2005-italia/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 29 Jul 2005 08:13:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Festival]]></category>
		<category><![CDATA[Gigs]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost/wordpress/index.php/2005/07/29/slendro-jazz-di-alkantara-festival-2005-italia/</guid>
		<description><![CDATA[Adalah tahun kedua penyelenggaraan Alkantara Festival 2005, pesta musik tradisional dan etnik populer yang belangsung di Sicilia.         
Penampilan perdana Krakatau pada hari Selasa (19/07) bertempat di Comune di Fiumefreddo, Villa Comunale, Messina mendapatkan sambutan meriah dari para penonton &#8216;little town&#8217; ini.
Lansekap pertunjukan yang merupakan taman kota dikelilingi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://localhost/wordpress/index.php/2005/07/29/slendro-jazz-di-alkantara-festival-2005-italia/49/" rel="attachment wp-att-49" title="alkantara.gif"><img src="http://localhost/wordpress/wp-content/uploads/2007/12/alkantara.gif" alt="alkantara.gif" align="left" border="0" hspace="5" vspace="5" /></a>Adalah tahun kedua penyelenggaraan Alkantara Festival 2005, pesta musik tradisional dan etnik populer yang belangsung di Sicilia.         <!--News Start --></p>
<p>Penampilan perdana <strong>Krakatau</strong> pada hari Selasa (19/07) bertempat di Comune di Fiumefreddo, Villa Comunale, Messina mendapatkan sambutan meriah dari para penonton &#8216;little town&#8217; ini.</p>
<p>Lansekap pertunjukan yang merupakan taman kota dikelilingi rimbunan pepohonan dengan sejumlah bangku-bangku taman mengelilingi. Disalah satu sudut terdapat permainan untuk anak-anak sehingga merupakan lokasi yang tepat untuk pertunjukan Krakatau yang membuka Alkantara Festival 2005.</p>
<p>Produser Alkantara Festival, <strong>Mario</strong> dalam penjelasannya kepada <em>WartaJazz.com</em> menyebutkan bahwa tahun ini Alkantara memasuki usia penyelenggaraan kedua dan menjadi festival berskala Internasional.</p>
<p>Krakatau tampil dengan formasi penuh yakni <strong>Dwiki Dharmawan</strong> (Keyboard &amp; Syntesizer), <strong>Pra Budi Dharma </strong>(Electric Fretless Bass), <strong>Adhe Rudhiana</strong> (Kendang and Percussions), <strong>Yoyon Dharson</strong>o (Multi Traditional Instruments), <strong>Zainal Arifin</strong> (Gamelan and Percussions), <strong>Gerry Herb</strong> (Drummer) dan <strong>Ubiet</strong> (vokalis).</p>
<p>Membawakan sejumlah lagu dari album lawas Magical Match dan sejumlah lagu dari dua album teranyar Two Worlds dan Rhythm of Reformation, menyapa para penonton yang sebagian besar datang bersama keluarga.</p>
<p>Pertunjukan dibuka dengan Gank4 yang disusul dengan Egrang Funk, dan Bunga Tembaga. Dilagu ketiga ini Dwiki Dharmawan memperkenalkan anggota band Krakatau satu persatu. Setelah itu menyusl Shufflendang dan Tugu Hegar yang merupakan duet antara kendang dan drums.</p>
<p>Pada lagu Bandung Spirit Dwiki Dhamawan membuka dengan solo pada keyboardnya setelah itu Pra Budi Dharma, Ade Rudhiana, Gerry Herb, bergabung dan memainkan jazz yang &#8217;sebenarnya&#8217;. Dua lagu yang berisikan vokal Ubiet yakni <em>Uhang Jaeuh </em>dan <em>Tarek Pukat. </em>Menutup konser yang disiram bulan purnama ini, lagu Rhythms of Reformation.</p>
<p>Usai pertunjukan para personil Krakatau berkesempatan membubuhkan tanda tangan kenang-kenangan di dua CD yang dijual untuk para penonton. Sejumlah penonton mengungkapkan pujiannya akan musik Krakatau yang orisinil dan inovatif. Pemain kendang, tarompet dan bonang mendapat pujian khusus dari para penonton ini. Sejumlah penonton juga mengungkapkan harapannya agar Krakatau dapat kembali ke Catania tahun depan.</p>
<p align="center">***</p>
<p>Panitia di Alkantara Festival dalam siaran persnya menyebutkan bahwa Krakatau mengisi kategori world music. Memang menarik kalau kita amati lebih jauh, bahwa kelompok yang telah berdiri lebih dari 21 tahun silam ini dapat ditarik ke garis jazz atau world music bahkan meminjam istilah Larry Alpfenbaum dari majalah Jazz kenamaan JazzTimes bahwa musik Krakatau &#8220;&#8230;a kind of spacey Javanese free jazz&#8230;&#8221;.</p>
<p>Beberaa peserta lain yang juga turut ambil bagian dalam Alkantara Festival 2005 antara lain Riccardo Tesi &amp; Banditaliana(Toscana), Richard Grainger (Inggris) dan NaA Maravigghia serta Matide Politi bersama sejumlah peserta dari Sicilia lainnya.</p>
<p>Alkantara Festival juga didukung oleh Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI, Kedutaan Besar Republik Indonesia di Roma, Institut Italiano di Cultura di Jakarta, Passopomo Turismo Rurale dan Credito Siciliano.</p>
<p>Usai manggung di Alkantara Festival, Krakatau dijadwalkan manggung keesokan harinya (20/7) di Festa de L&#8217;unita yang berlangsung di di Piazza Nettuno, yang terletak di tepi pantai di Catania, Sicilia. Acara ini disponsori ole Demcoratici Di Sinistra, salah satu partai di Sicilia <em><strong>(*/Agus Setiawan B/WartaJazz.com)</strong></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.krakatau.net/2005/07/29/slendro-jazz-di-alkantara-festival-2005-italia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
