29July2005
Posted by admin under: Festival; Gigs.
Adalah tahun kedua penyelenggaraan Alkantara Festival 2005, pesta musik tradisional dan etnik populer yang belangsung di Sicilia.
Penampilan perdana Krakatau pada hari Selasa (19/07) bertempat di Comune di Fiumefreddo, Villa Comunale, Messina mendapatkan sambutan meriah dari para penonton ‘little town’ ini.
Lansekap pertunjukan yang merupakan taman kota dikelilingi rimbunan pepohonan dengan sejumlah bangku-bangku taman mengelilingi. Disalah satu sudut terdapat permainan untuk anak-anak sehingga merupakan lokasi yang tepat untuk pertunjukan Krakatau yang membuka Alkantara Festival 2005.
Produser Alkantara Festival, Mario dalam penjelasannya kepada WartaJazz.com menyebutkan bahwa tahun ini Alkantara memasuki usia penyelenggaraan kedua dan menjadi festival berskala Internasional.
Krakatau tampil dengan formasi penuh yakni Dwiki Dharmawan (Keyboard & Syntesizer), Pra Budi Dharma (Electric Fretless Bass), Adhe Rudhiana (Kendang and Percussions), Yoyon Dharsono (Multi Traditional Instruments), Zainal Arifin (Gamelan and Percussions), Gerry Herb (Drummer) dan Ubiet (vokalis).
Membawakan sejumlah lagu dari album lawas Magical Match dan sejumlah lagu dari dua album teranyar Two Worlds dan Rhythm of Reformation, menyapa para penonton yang sebagian besar datang bersama keluarga.
Pertunjukan dibuka dengan Gank4 yang disusul dengan Egrang Funk, dan Bunga Tembaga. Dilagu ketiga ini Dwiki Dharmawan memperkenalkan anggota band Krakatau satu persatu. Setelah itu menyusl Shufflendang dan Tugu Hegar yang merupakan duet antara kendang dan drums.
Pada lagu Bandung Spirit Dwiki Dhamawan membuka dengan solo pada keyboardnya setelah itu Pra Budi Dharma, Ade Rudhiana, Gerry Herb, bergabung dan memainkan jazz yang ‘sebenarnya’. Dua lagu yang berisikan vokal Ubiet yakni Uhang Jaeuh dan Tarek Pukat. Menutup konser yang disiram bulan purnama ini, lagu Rhythms of Reformation.
Usai pertunjukan para personil Krakatau berkesempatan membubuhkan tanda tangan kenang-kenangan di dua CD yang dijual untuk para penonton. Sejumlah penonton mengungkapkan pujiannya akan musik Krakatau yang orisinil dan inovatif. Pemain kendang, tarompet dan bonang mendapat pujian khusus dari para penonton ini. Sejumlah penonton juga mengungkapkan harapannya agar Krakatau dapat kembali ke Catania tahun depan.
***
Panitia di Alkantara Festival dalam siaran persnya menyebutkan bahwa Krakatau mengisi kategori world music. Memang menarik kalau kita amati lebih jauh, bahwa kelompok yang telah berdiri lebih dari 21 tahun silam ini dapat ditarik ke garis jazz atau world music bahkan meminjam istilah Larry Alpfenbaum dari majalah Jazz kenamaan JazzTimes bahwa musik Krakatau “…a kind of spacey Javanese free jazz…”.
Beberaa peserta lain yang juga turut ambil bagian dalam Alkantara Festival 2005 antara lain Riccardo Tesi & Banditaliana(Toscana), Richard Grainger (Inggris) dan NaA Maravigghia serta Matide Politi bersama sejumlah peserta dari Sicilia lainnya.
Alkantara Festival juga didukung oleh Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI, Kedutaan Besar Republik Indonesia di Roma, Institut Italiano di Cultura di Jakarta, Passopomo Turismo Rurale dan Credito Siciliano.
Usai manggung di Alkantara Festival, Krakatau dijadwalkan manggung keesokan harinya (20/7) di Festa de L’unita yang berlangsung di di Piazza Nettuno, yang terletak di tepi pantai di Catania, Sicilia. Acara ini disponsori ole Demcoratici Di Sinistra, salah satu partai di Sicilia (*/Agus Setiawan B/WartaJazz.com)
10July2005
Posted by admin under: Festival; Gigs.
De Indonesische formatie Krakatau maakt muziek die gebasseerd is op het oude s’lendro – de traditionale muziek van Java, Bali en Sunda. Krakatau mengt deze oude ritmes met Westerse elementen uit de pop en jazz.Penggalan kalimat diatas yang dapat dibaca dari brosur yang disebarluaskan panitia Heat the Hague – North Sea Jazz Festival (NSJF), acara pemanasan sekaligus promosi NSJF yang mengambil tempat di Plein, Centrum Den Haag.
Acara yang berlangsung malam hari, sekitar pukul 19.00 waktu setempat, meski demikian terik matahari masih menyengat, walau angin semilir yang berhembus terasa dingin merasuk tulang.
Krakatau yang tampil dua hari menjelang NSJF yang digelar di National Congress Centrum, membawakan sejumlah lagu baru dari album baru dan lawas yakni Gank4, Egrang Funk, Bunga Tembaga, Shufflendang, Tugu Hegar, Bandung Spirit, Uhang Jaeuh, Tarek Pukat dan Rhythms of Reformation.
Penampilan selama kurang lebih 60 menit ini, menghangatkan suasana Plein, yang merupakan lapangan dikelilingi sejumlah bangunan sehingga menimbulkan efek akustik tersendiri. Disisi kiri panggung terdapat sejumlah restaurant terbuka. Dibelakangnya ada sejumlah toko-toko yang menjual beragam produk, mulai dari souvenir hingga makanan.
Krakatau yang terdiri dari Dwiki Dharmawan (Keyboard & Syntesizer), Pra Budi Dharma (Electric Fretless Bass), Adhe Rudhiana (Kendang and Percussions), Yoyon Dharsono (Multi Traditional Instruments), Zainal Arifin (Gamelan and Percussions), Gerry Herb (Drummer) dan vokalis Nya Ina Raseuki yang akrab dipanggil Ubiet tampil dengan penuh semangat.
Duet dua kendang dan bonang, diselingi dengan bungi ceng-ceng dan ditimpali suara tarompet pada lagu ‘Rhythms of Reformation’ membuat penonton yang berada dibibir panggung bergoyang-goyang mengikuti irama lagu. Sesekali Ubiet mengeluarkan suara-suara unik dari mulutnya.
Salah satu penampilan yang mendapat perhatian dari para penonton adalah ketika terjadi duel antara Gerry Herb pada drum dengan Ade Rudhiana bersama kendangnya. Saling bersahut-sahutan, merespon satu sama lain, menjadikan pertunjukan mereka tidak terasa monoton, bahkan adrenalin terasa meningkat ketika pada bagian akhir kedua musisi yang berbeda latar belakang – Gerry awalnya bermain Rock dan Ade yang memang musisi tradisional sunda – meningkatkan tempo permainan. Suara kendang dan drum yang bertalu-talu diakhiri dengan hentakan luar biasa.
***
Penampilan Krakatau yang didukung penuh oleh Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia serta Departemen Luar Negeri ini menjadi penting terutama karena publik Belanda yang memiliki keterkaitan historis dengan Indonesia.
Tak hanya itu, keikutsertaan Krakatau di North Sea Jazz Festival membuktikan bahwa Krakatau memang pantas disejajarkan dengan jazzer-jazzer kelas dunia lainnya.
Penampilan Krakatau sebelumnya di Galapagar Jazz Festival Spanyol hanya berselang satu jam dengan James Brown yang tampil dipanggung yang berseberangan dengan Auditorium atau Cultural Centre Communidad de Galapagar.
Rencananya Krakatau juga akan tampil di Montreux Jazz Festival di Swiss dan Alkantara Festival di Italia serta tampil pula di Klub Jazz kenamaan di Madrid, Spanyol, Calle 54. (*/Agus Setiawan B/WartaJazz.com)
1June2005
Posted by admin under: Album; Projects.
Dalam perjalanan karir Krakatau selama kurang lebih 20 tahun – 10 tahun dengan format jazz & karawitan – telah menghasilkan 2 album bercorak racikan worldmusic & jazz. Rentang kedua album tersebut masing-masing Mystical Mist dan Magical Match kurang lebih 5 tahun. Sehingga Dwiki Dharmawan, pimpinan kelompok yang beranggotakan 7 orang musisi ini pernah berkelakar, sepertinya Krakatau harus mengeluarkan album setiap 5 tahun sekali.
Dalam sebuah kesempatan Jumpa Pers berkaitan penampilan Krakatau di Festival Tiga Budaya/Agama di Spanyol, Sabtu (28/05) kemarin, Dwiki menyinggung dua hal yang akan terjadi dalam 2 bulan kedepan. Pertama, soal rencana keberangkatan mereka dalam tur Eropa Barat yang akan mendatangi sedikitnya 6 negara. Dan yang kedua adalah rencana dirilisnya album Krakatau yang kali ini dibundel menjadi 2 album sekaligus.
“Kita akan langsung rilis dua album baru yang berbeda dengan album sebelumnya, yaitu two worlds yang merupakan penampilan live Krakatau dan kolaborasi dengan musisi mancanegara dan album percussion reformation,” kata Dwiki Dharmawan.
Dua album tersebut direncanakan akan dirilis pada 8 Agustus 2005 setelah Krakatau selesai melakukan tour di Eropa yaitu di Spanyol, Belanda, Prancis dan Swiss, Italia dari 3 Juli hingga 1 Agustus 2005.
Album two worlds akan berisi 12 lagu hasil kolaborasi Krakatau dengan musisi mancanegara, sedangkan album percussion reformation akan berisi delapan lagu, demikian keterangan Pra Budi Darma, bassis yang rencananya akan membawa bass khusus yang dirancang mirip gitar gambus. “Ini bass unik. Sekalian supaya bisa digesek juga”, demikan ujar Pra lebih lanjut.
“Dua belas lagu pada album two worlds merupakan hasil kolaborasi dengan musisi-musisi internasional seperti musisi Amerika pada tiga lagu, lima lagu dengan musisi Kanada, dua lagu dengan musisi Italia, dan dua lagu Krakatau sendiri,” kata Dwiki.
Musisi mancanegara tersebut seperti yang pernah disinggung oleh WartaJazz.com dalam liputannya mendampingi Krakatau tahun lalu yakni Howard Levy, Chicago Amerika yang merupakan musisi harmonika nomor satu di Amerika, bassis Drew Birston dan pianis Ron Davis, gitaris Reg Schwagger, Andrew Tillmar, Paul Hole - kelimanya dari Toronto, Kanada, dan Bariton saksofonis terbaik dari Italia, Carlo Actis Dato.
Sementara itu, bassist Krakatau Pra Budi Dharma mengatakan lima lagu kolaborasi dengan musisi Kanada yaitu pada lagu Two Worlds, Pine Crescent, Bambu Putih, Swing O’lendro, Toronto Jams dan Maple Song.
“Dua lagu kolaborasi dengan musisi Italia yaitu Baritone Funk dan Double Bands at TIM yang merupakan rekaman live di TIM Jakarta, sedangkan lagu dengan musisi Amerika yaitu Levy’s Groove dan Chicago Sessions dan Bunga Tembaga merupakan lagu vokal dari Ubiet (vokalis Krakatau),” kata bassist yang sempat dikira sebagai Native American ketiga tur ke US tahun lalu.
Mengenai album Percussion Reformation, Pra B Dharma menjelaskan ada delapan lagu yaitu dua versi lagu Percussion Reformation, dua versi lagu Toronto Percussion Jams, Kuntulanisme, Premordial Dance, dan lagu bernuansa Aceh yaitu Tari Puket serta Uhang Jaeuh yang diambil dari tradisi di Kerinci.
“Kuntulanisme merupakan lagu yang diilhami kesenian daerah Kuntulan dari Banyuwangi Jawa Timur,” kata Pra B Dharma yang juga pendiri Krakatau Band itu.
Krakatau digawangi oleh tujuh orang personel yaitu Dwiki Dharmawan (Keyboard & Syntesizer), Pra Budi Dharma (Electric Fretless Bass), Adhe Rudhiana (Kendang and Percussions), Yoyon Dharsono (Multi Traditional Instruments), Zainal Arifin (Gamelan and Percussions), Gerry Herb (Drummer) dan vokalis Nya Ina Raseuki yang akrab dipanggil Ubiet. (*/Agus Setiawan Basuni/WartaJazz.com)