10July2004

Krakatau pukau 4000 penonton di Vancouver International Jazz Festival

Posted by admin under: Festival; Gigs.

David Lam Park, Vancouver BC menjadi saksi sekitar 4000 penonton yang tumpah ruah menyaksikan konser Krakatau Band yang tampil sebagai artis penutup Vancouver International Jazz Festival pada Minggu (04/07) lalu.Krakatau yang terdiri dari Dwiki Darmawan (Micro-tuned keyboard dan Synthesizer), Pra Budidharma (Slendro Fretless Bass), Adhe Rudiana (kendang, perkusi, simbal), Yoyon Darsono (rebab, suling, terompet, kecapi, voice), Zainal Arifin(Bonang, perkusi, voice), dan Gerry Herb(drum) plus Nyak Ina Raseuki atau yang akrab disapa Ubiet pada voice tampil prima.

Para penonton yang terdiri dari berbagai usia, mulai dari kanak-kanak hingga orang dewasa tampak puas menyaksikan Krakatau yang tampil sekitar satu setengah jam dengan sajian reportoar sekitar 10 lagu dan bonus 2 lagu encore.

***

David Lam Park merupakan salah satu dari sekian banyak lokasi yang disediakan oleh Coastal Jazz Society, panitia yang menyelenggarakan Vancouver Jazz Festival yang tahun ini memasuki usianya yang ke 19.

Terletak di downtown Vancouver. Banyak penonton yang datang bersama keluarga memanfaatkan tempat terbuka ini untuk segudang aktifitas. Ada yang sambil tidur-tiduran atau berjemur, sebagian lagi jogging atau naik sepeda, sementara anak-anak dapat bermain atau melukis diarena bermain yang terletak disebelah kanan panggung festival.

***

Sekitar setengah jam sebelum Krakatau manggung, tampil kelompok Blues asal Texas, Sonny Rhodes. Sebagian penonton berdiri didepan panggung, namun yang lain masih duduk santai menikmati sajian musik gitaris/penyanyi Sonny Rhodes.

Namun situasi jadi berubah tatkala MC mengumumkan bahwa Krakatau yang datang dari ribuan mil dari Vancouver siap tampil. Sontak ribuan orang berdiri berjejal mendekati bibir panggung, wal hasil, tak ada penonton yang duduk dirumput. Menyebabkan penonton yang berposisi agak jauh dibelakang harus berdiri untuk melihat penampilan Krakatau. Luar biasa!.

Sesaat Dwiki Dharmawan, memperkenalkan anggota band ini satu-persatu, Bubuka-Bancak Pakewuh disajikan berbarengan dirajut dengan Egrank Funk yang menggunakan Pelog sebagai dasar namun dimainkan dalam rhythm funk. Berturut-turut setelahnya Shufflendang, Tugu Hegar, Uhang Jaeuh, Magical Match dan Shufflendro.

Dinomor Genjring Party, tepuk tangan penonton bergemuruh karena musiknya yang up-beat, dimana Dwiki, dan Arifin memainkan Rebana dengan permainan Tarompet Yoyon Dharsono sebagai pembuka, yang lantas kemudian disusul dengan berbagai variasi vokal dan solo pada keyboard. Nomor ini menjadi refleksi pengaruh yang diadopsi dari musik orang Aceh dan Melayu di Indonesia.

Dilagu The Rhythm of Reformation, yang merupakan lagu baru dan belum termuat di CD Magical Match atau Mystical Mist, para penonton diajak menyaksikan berbagai alat-alat perkusif dimainkan, plus solo Dwiki Dharmawan pada ceng-ceng Bali. Tepuk tangan tak henti-henti ditujukan penonton untuk penampilan yang meriah dari Krakatau.

***

Sejumlah jurnalis yang meliput acara ini menyampaikan kekagumannya pada musik Krakatau. Mereka yang tidak dapat membayangkan musik Krakatau sebelumnya, terkesima begitu melihat penampilan live kelompok ini. Ucapan terima kasih juga mengalir lantaran rombongan Krakatau dibantu para volunteer di Vancouver, membagikan DVD plus buku program berisi informasi tentang Indonesia, personil dan alat musik Krakatau dan souvenir kuda lumping.

Sejumlah pejabat Konsulat Jendral Republik Indonesia di Vancouver yang tampak hadir juga kebanjiran ucapan selamat dari para penonton. Sukses untuk semua!.

***

Penampilan terakhir Krakatau di Vancouver International Jazz Festival ini sekaligus pula menutup Tur Amerika Utara pertama setelah sebelumnya juga tampil di St. Paul Hot Summer Jazz Festival, Toronto Downtown International Jazz Festival, dan Colorado Summer Music Festival.

Tak sia-sia kelompok ini terbang ribuan kilometer guna mengharumkan nama bangsa. Semoga tur yang disponsori oleh Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata Indonesia dan didukung Departemen Luar Negeri ini dapat menjadi inspirasi bagi kelompok kesenian lain di Indonesia khususnya Jazz untuk menggali potensi, agar dapat tampil di event bergengsi yang lain. (*/Agus/WartaJazz.com)

1 

8July2004

Toronto Downtown Jazz Festival (by Larry Appelbaum - JazzTimes)

Posted by admin under: Festival; Gigs.

…The next day began with a free afternoon concert by Krakatau, a sextet from western Java that plays a kind of Indonesian jazz-rock fusion. It was interesting to hear the rhythm section kick out the jams, playing funky backbeats with gamelan, wordless vocals, micro-tuned keyboard, kendang (barrel drum), and rebab (2-string bowed fiddle) on top. I especially liked when they started a piece playing a kind of spacey Javanese free jazz, so it was no surprise when the bassist told me the group loves Miles Davis’ In A Silent Way….

Larry Appelbaum - JazzTimes

0 

20June2004

KRAKATAU MENGGOYANG UNIVERSITY OF ILLINOIS SUMMER JAZZ FESTIVAL 2004

Posted by admin under: Festival; Gigs.

Menyusul sukses di Washington DC dan Bowling Green, Krakatau kembali memukau sekitar 500-an penonton yang memadati Tryon Festival Hall di Gedung Krannert Center for Performing Arts (KCPA) dikawasan Universitas Urbana-Campaign, Illinois (UIUC).

Krannert Center dapat disejajarkan dengan pusat kegiatan seni lain seperti Lincoln Center di New York atau Kennedy Center di Washington DC. KCPA digunakan untuk berbagai pertunjukan seperti musik, dance, atau opera.

Pusat kegiatan di Midwest ini pernah menghadirkan artis ternama seperti Cassandra Wilson, Chicago Symphony Orchestra, Mark Morris Dance Group dan Joshua Redman. Beberapa musisi lain seperti Ramsey Lewis, Nancy Wilson, Smithsonian Jazz Masterworks Orchestra atau Ravi Shankar juga akan tampil di KCPA tahun ini.

***

Krakatau menjadi kelompok pembuka Summer Jazz Festival 2004 yang berlangsung sekitar satu minggu. Ditempat yang sama tampil Jon Faddis dan 12 orang anggota ensembelnya menyajikan musik ragtime Scott Joplin, James Scott, Joseph Lamb dan Jelly Roll Morton, juga tampil Chip McNeill - pemain saksophone post-bob - yang juga direktur Program Jazz di School of Music UIUC dengan orkestra membawakan karya Miles Davis “Sketches of Spain”.

“Dengan menghadirkan program jazz dikampus ini School of Music bersama Krannert Center dan klub lokal menumbuhkan-suburkan jazz ditengah komunitas kita”, demikian Dr. Karl Krammer, direktur School of Music UIUC menjelaskan. “Tahun ini kami menyajikan komponen world music sebagai bahagian dari sejarah jazz yang telah kami tawarkan tahun lalu”, tambahnya lagi.

Krakatau menurut Krammer lagi merupakan kelompok yang dinamis sekaligus unik lantaran berhasil memadukan tonal sistem dari Gamelan tradisional dan rhythm etnis dengan tradisi jazz dari Barat.

***

Konser yang dimulai pukul 20.00 waktu setempat, diawali dengan sedikit sambutan dari Prof. Charles Chapwell, musikolog dari UIUC yang merupakan inisiator kedatangan kelompok Krakatau ke Amerika Serikat.

Professor yang akrab dipanggil Pak Charlie, mengutarakan bagaimana ia pertama kali mengenal musik Krakatau, sekitar 10 tahun silam, dan bermimpi untuk mendatangkan kelompok ini manggung di AS. Pria berkacamata yang meneliti musik-musik religius di Malaysia dan Indonesia ini juga menjelaskan proses diundangnya Krakatau yang bertepatan dengan program yang sedang disusun oleh Dr. Karl Krammer.

Krakatau tetap membawakan reportoar yang telah dipersiapkan. Namun satu hal yang menarik, Ade Rudhiana sempat berimprovisasi dengan mengajak penonton merespon permainan kendangnya. Kang Ade, demikian ia akrab disapa, memukul kendang dengan tangan kirinya, setelah itu ia mengajakan penonton merespon dengan bertepuk tangan lima kali. Setiap tepukan berubah-ubah merespon permainan kendang Ade. Pada bagian akhir di improvisasi yang melibatkan penonton ini, suara tepuk tangan meriah diberikan untuk Kang Ade.

Selain itu Yoyon Darsono dengan tiupan tarompetnya juga membuat penonton tertegun heran dan sedikit menahan nafas lantaran tarompet ini dimainkan tanpa henti kira-kira sekitar delapan menit. Tidak heran karena teknik circular breathing digunakan, udara yang disimpan dirongga mulut, dilepaskan sedikit demi sedikit, sementara pada saat yang bersamaan tetap menghidurp udara melalui hidung. Hasilnya?, applaus meriah usai improvisasi pada bagian ini.

Pada lagu Rhythm of Reformation, bebunyian perkusif memenuhi seluruh ruangan yang memiliki tata akustik sangat bagus ini. Dwiki Dharmawan memainkan ceng-ceng bali yang memiliki sound yang khas. Emosi penonton terbawa lantaran tempo permainan semakin cepat bahkan dwiki sempat pula memukulkan ceng-ceng tersebut ke lantai panggung sehingga menimbulkan suara yang unik dan berbeda. Begitu suara drum Gerry Herb berpadu dengan permainan rampak kendang Ade dan Zainal Arifin, ditambah permainan dog-dog Pra Budi Dharma dan Yoyon dengan tarompetnya memacu adrenalin penonton yang berbuah tepuk tangan yang tak henti-henti hingga lagu ini selesai. Menutup konser di Urbana ini, sebuah encore dipersembahkan bertitel Mystical Mist.

***

Beberapa jam sebelumnya, Pra Budi Dharma dan Dwiki Dharmawan juga berkesempatan melakukan interview di Radio WEFT 90.1 FM, East Central Illinois yang berdiri sejak tahun 1981. Interview yang semula hanya direncanakan sekitar 30 menit diperpanjang menjadi sekitar 1 jam 30 menit atas permintaan Mick Woolf, Station Manager radio ini.(*/Agus/WartaJazz.com)

School of Music - University of Illinois at Urbana-Campaign

0 

My Video

Browse

Calendar

January 2009
M T W T F S S
« Sep    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

News Categories

Partners site

www.musikita.biz
www.farabimusic.com

Links