28May2005

Krakatau Terpilih Tampil di Festival Tiga Budaya

Posted by admin under: Festival; Gigs.

Krakatau Band menjadi simbol toleransi dalam bermusik dengan personelnya yang terdiri atas multietnis dan etnomusikal Indonesia dibalut dengan musik jazz modern yang diusungnya.

Karena multietnis tersebut, Krakatau terpilih untuk tampil dalam Murcia Tres Cultures (Festival Murcia Tiga Budaya) di Murcia, Spanyol pada 10-28 Mei 2005 yang bertemakan “untuk toleransi” bersama dengan musisi dari 13 negara di dunia.

“Ini merupakan pengalaman pertama dalam 20 tahun bermusik Krakatau mengikuti dan terlibat dalam acara tersebut. Kita sungguh terharu, gembira dengan perdamaian dan toleransi,” kata Dwiki Darmawan, keyboardist yang juga pimpinan Krakatau Band di Jakarta, Sabtu dalam jumpa pers penampilan Krakatau di Murcia tersebut.

Festival Murcia Tiga Budaya yang mulai diselenggarakan sejak enam tahun lalu merupakan ajang seni terhadap inisiatif bidang musik dan seni untuk perdamaian dan toleransi yang digelar oleh Pemerintah Provinsi Murcia melalui Kantor Dinas Budaya dan Festival Murcia.

“Murcia merupakan provinsi yang besar dibawa kekuasaan Ottoman Turki, di sana tidak pernah ada kekerasan, perdebatan tentang agama, sehingga menjadi lambang perdamaian dan tempat festival budaya,” ujar Dwiki.

Dia merasa sangat senang dengan inisiatif tiga budaya yang mempertemukan seniman musik, teater dan sastra dari 14 negara berbeda budaya dan religi, yang melambangkan perdamaian dan toleransi.

“Musik menjadi bahasa yang universal yang menyatukan umat manusia yang menyatukan umat manusia dengan pergaulan yang penuh perdamaian dan toleransi,” kata suami dari penyanyi Ita Purnamasari itu.

Sementara itu, bassist Krakatau, Pra Budi Dharma mengatakan Krakatau merupakan band yang membawakan lagu etnis Indonesia termasuk personilnya yang juga multietnis, sehingga penampilan mereka di Murcia menjadi hal yang unik dan mendapat antusias penonton.

“Mereka belum pernah mendengar dan melihjat wujud rebana, gamelan. Spanyol merupakan tempat berkumpulnya turis, sehingga bagus untuk ekspose Krakatau dan Indonesia,” kata Pra B Dharma.

Sedangkan anggota Krakatau yang memainkan alat musik tradisional Sunda,Yoyon Dharsono, mengatakan musik Krakatau sangat unik, karena dibangun berdasar musik tradisional yang dibalut musik modern bernuansa jazz.

“Berbeda dari musik-musik yang dibawakan peserta Festival Murcia lain, kami Krakatau membawakan musik dua dunia yang berbeda (modern dan tradisional),” kata Yoyon instruktur alat musik Sunda di STSI Bandung yang dapat bermain rebab, tarompet, suling dan alat musik Sunda.

Menurut Manajer Krakatau, Gracia Anna, dipilihnya Krakatau sebagai salah satu pengisi acara Festival Murcia dikarenakan Krakatau merupakan band jazz yang mengusung etnomusikal khas Indonesia dan juga mewakili negara muslim.

“Penampilan Krakatau mewakili negara Asia pertama dan negara yang berpenduduk muslim, sehingga Krakatau membawakan sholawat nabi di sana,” kata Gracia.

Dia mengatakan, Festival Murcia sebelumnya belum pernah menampilkan musisi dari Asia, sehingga Krakatau menjadi musisi pertama Asia yang mengisi festival musik internasional tersebut.

Selain Krakatau Band, ada seniman musik dari 13 negara yang tampil dalam Murcia Tres Culturas yaitu Ainhoa Arteta (Spanyol), Ceremonia Sufi (Maroko), Marek Bochniak (Polandia), Maria del mar Bonet (Spanyol), Mouse el Kenawy (Mesir), Divana dan Danse Kalbelya (India), Pressbulger Kezmer Band (Estonia), Lee Brown Gospel (Amerika), Farida Iraqui Maqam (Irak), Sammir Wissam dan Adnan Jourban (Palestina), Nayla (Lebanon), Rasha (Sudan) dan Mad Sheer Khan (Aljazair).

Dwiki mengatakan, penampilan mereka di Murcia juga merupakan pemanasan sebelum tour Krakatau keliling Eropa pada bulan Juli sampai Agustus 2005 nanti. (Ant/jy)

0 

4December2004

Pesta Raya – Malay Festival of Arts @Esplanade

Posted by admin under: Festival; Gigs.

Pesta Raya – Malay Festival of Arts 2004

IndoJazz
Krakatau
Indonesia
When: 09 Dec 2004 (Thu), 8.00 PM – 10 Dec 2004 (Fri), 8.00 PM at the Recital Studio

“Krakatau at once offered some new, even exotic ideas, and yet remained very true to the promise of American fusion-proving that the band has successfully found a way to honor both its Indonesian roots and its American forbearers.” – OnLine Jazz Journal From the world’s largest archipelago comes a dynamic jazz-rock fusion band that has taken the European world music circuit by storm. Heralded as one of Indonesia’s most innovative bands, Krakatau creates a unique form of jazz from the music traditions of Indonesia, including the micro-tonal system of the ancient gamelan traditions.

Through the band’s talented ensemble of musicians they are constantly exploring and adapting musical ideas from beyond their base in West Java, to draw inspiration from the Indonesian archipelago’s staggeringly diverse musical cultures.

Let Krakatau’s extraordinary music and power-packed stage presence blow away!

90mins with no intermission.

$25*(Concession price for students, NSF Men and senior citizens at $20) Inclusive of a non-alcoholic drink.

More info : http://www.esplanade.com

0 

25July2004

Penampilan Krakatau di Festival Jazz Toronto

Posted by admin under: Festival; Gigs.

MUSIM panas sudah setengah jalan, namun udara Toronto masih sering membuat orang menggigil. Untuk anggota Krakatau yang sebagian tinggal di Bandung, mungkin udara seperti ini malah lebih cocok ketimbang musim panas yang biasanya melekit.

GRUP jazz kondang Indonesia ini tampil di Toronto di dua tempat yang sangat bergengsi. Pertama, Toronto Jazz Festival (TJF), yang tahun ini menggondol nama-nama besar, seperti Oscar Peterson, Gary Burton, Jean Luc Ponty, Stanley Clark, Al Dimeola, John Scofield, George Benson, Wynton Marsalis, Joey De Francesco, dan Michel Camilo, di samping segudang pemusik jazz lokal yang sangat berwibawa, seperti grup para dosen musik jazz di University of Toronto and York University. Penampilan Krakatau yang kedua bertempat di Royal Conservatory of Music (RCM), sebuah pusat kegiatan musik yang sangat berwibawa di Kanada. Penampilan Krakatau itu merupakan bagian dari Krakatau North America Tour 2004, yang berlangsung di berbagai tempat dari tanggal 3 Juni 2004 sampai 19 Agustus 2004.

Di TJF (yang disponsori oleh TD Canada Trust), Krakatau tampil di pusat lokasi festival, yaitu di panggung Nathan Philips Square di depan City Hall. Penampilan grup kondang Indonesia ini memang bukan di panggung utama, tetapi terobosan ini tetap sangat berarti bagi nama baik dunia musik jazz Indonesia. Para penonton yang bersedia terjemur terik matahari di siang hari bolong ini sangat antusias menyambut Krakatau. Sebagian dari mereka malah mengatakan bahwa ini grup musik jazz terbaik yang pernah mereka tonton. Sebagian penonton di RCM juga berkomentar sama. Di RCM malah ada penonton yang datang khusus dari luar kota untuk mendengarkan kilah Krakatau.

Yang menarik untuk diamati dari peristiwa ini adalah bagaimana para penggemar jazz (termasuk juga para pemain jazz lokal yang hadir di antara penonton) di kota budaya Kanada ini dapat menikmati musik Krakatau yang sangat problematik. Pertama-tama, tangga nada musik Krakatau dibangun di atas unsur pentatonik Sunda yang mungkin tidak biasa bagi telinga para pencinta musik jazz di Kanada. Di samping itu, ketika musik mereka melantun ke bagian berimprovisasi, tangga nada yang digunakan oleh Dwiki Dharmawan (keyboard), Pra Budi Dharma (bas), Zainal Arifin (bonang multi-laras), Yayon Dharsono (vokal, suling, dan rebab), dan Ubiet (vokal) tidak lagi terdengar seperti musik pentatonik, yang mungkin masih mudah dicerna. Saat itu tangga yang mereka gunakan sudah menjelma menjadi tangga nada yang berjarak serba kecil (microtonal) karena mereka menggabungkan tangga nada slendro, pelog, madenda, dan matraman sekaligus dalam satu oktaf. Konsekuensi dari penggunaan gabungan sistem tangga nada Sunda ini adalah berubahnya ketinggian tiap-tiap nada pada instrumen mereka yang tidak lagi berpatokan pada ketinggian nada internasional (piano).

Akibatnya, pada bagian-bagian improvisasi ini secara melodik musik mereka terdengar sangat ruwet, berputar-putar, dan sulit untuk dicerna. Pada dua lagu pertama, penonton di depan panggung Nathan Philips Square tampak masih sulit mengikuti alur dan arah musik Krakatau. Kebetulan repertoar mereka di sini juga tidak membantu. Dramaturgi lagu-lagu mereka pada bagian-bagian awal ini terasa lamban. Apalagi nomor Bebuka yang dimainkan sebagai nomor pembuka memiliki bagian intro yang agak berkepanjangan. Selain itu, mereka juga tidak berhasil mendapatkan balance maupun kualitas suara yang baik sekalipun sudah membawa dua orang penata suara dari Indonesia (atau mungkin justru karena itu?).

Musik Krakatau memang menawarkan tantangan baru, tidak hanya bagi para pendengar dan penata suara (yang mungkin tidak biasa dengan instrumen tradisional), tetapi juga bagi para pemain Krakatau sendiri. Dengan bertumpu pada tangga nada pentatonik asli Sunda, musik mereka dengan sendirinya berada dalam wilayah musik heterofonis (multi-layer) gamelan. Sementara itu, lagu-lagu mereka masih diciptakan dengan pola pemikiran musik homofonis (melodi plus akor) Barat. Dwiki dan Pra yang menjadi pemikir Krakatau sadar akan hal ini, tetapi mereka tampaknya belum berhasil menemukan jalan keluar yang pas. Saat ini yang terdengar dari musik Krakatau adalah semacam dualisme. Pada saat memainkan bagian (melodi) lagu, musik mereka menjadi musik pentatonik Sunda yang kental. Namun, pada saat memasuki bagian improvisasi, musik mereka berubah menjadi musik jazz “just intonation” yang sangat mengambang (bukan modal, bukan tonal, dan tidak juga atonal).

Dewasa ini sebenarnya perkembangan musik jazz sudah jauh sekali. Beberapa grup jazz, seperti Orchestre National de Jazz de France (yang tampil di panggung yang sama) memainkan musik “jazz” yang merupakan sebuah kolase dari berbagai genre, bak musik John Zorn, tokoh musik eksperimental Amerika yang paling menonjol saat ini. Namun, bedanya dengan Krakatau, sekalipun selalu berubah-ubah, musik mereka memiliki arah dan bentuk yang jelas, tidak mengambang. Kalau kita mendengarkan dengan cermat, musik free jazz semacam Cecil Taylor atau Rosco Mitchell sekalipun masih memiliki kualitas ini. Pandangan saya ini masih didasarkan pada telinga (“modern”) sebagai ukuran enak tidak enaknya musik. Barangkali di “era pascamodern” ini para pencinta musik memang harus melaras pendengaran mereka kembali agar bisa mencerna musik-musik yang menawarkan fenomena baru seperti Krakatau.

Lepas dari masalah estetika tadi, penampilan Krakatau di TJF sempat mengundang radio jazz kondang di Toronto, Jazz FM, dan kritikus jazz, majalah Jazz Times, yang bergengsi untuk mewawancarai mereka. Pada siaran keesokan harinya di Jazz FM, mereka mengawali hasil pemutaran wawancara tersebut dengan komentar yang mengatakan bahwa “kemunculan Krakatau menandakan bagaimana eklektiknya TJF. Band ini berhasil memukau penonton di hari kedua festival”. Yang menarik, penampilan grup yang berikut sesudah Krakatau, yaitu Ron Davis, kadang tampak terbawa ke dalam suasana tangga nada pentatonik Sunda yang digunakan Krakatau. Sebelumnya Ron Davis, pianis jazz kondang Toronto, memang diajak untuk jam session di studio rekaman oleh Krakatau dan sangat mengagumi grup Indonesia ini.

Jerih payah Krakatau yang dimotori oleh Dwiki Dharmawan dan Pra Budi Dharma selama 20 tahun ini memang tidak sia-sia. Perjalanan keliling mereka ke bagian utara Benua Amerika (Amerika Serikat dan Kanada) agaknya mendapat sambutan yang menarik. Di Vancouver konon mereka mendapat sukses yang luar biasa. Dari sana saya menerima e-mail dari Pra Budi Dharma yang berbunyi demikian, mas, we were having a blast di Vancouver!! penonton sekitar 4.5000 org with many support dr org2 indo…heboh!! berhubung ini gig terakhir kita main habis2an kebawa emosi penonton…pokoknya semua org seneng, jadi panitia minta kita main lagi tahun depan di vancouver jazz fest.

Dengan begitu, saya pikir Krakatau telah berhasil membuka pintu dunia internasional bagi grup-grup jazz Indonesia yang lain. Masalahnya adalah (1) siapa yang sanggup bertahan main dalam satu grup sekian lama? dan (2) siapa yang sanggup tampil dengan gaya musik sendiri, bukan jiplakan dari negeri orang?

Franki Raden Profesor di Fine Arts Cultural Studies Program, Faculty of Fine Arts, York University, Toronto, Canada

Dimuat di Harian Kompas, Edisi Minggu, 25 Juli 2004.

http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0407/25/utama/1168012.htm

0 

My Video

Browse

Calendar

April 2014
M T W T F S S
« Dec    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Partners site

www.musikita.biz
www.farabimusic.com

Links